Minggu, 05 September 2010

PENDEKATAN KOGNITIF DAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

PENDEKATAN KOGNITIF DAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Olehn : Aidia Nurfitra, M.A
Magister UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Guru MAN 1 Padang

PENDEKATAN KOGNITIF DAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF
ِِِِِA. Pendahuluan
Maksud dari judul penulis cantumkan diatas adalah dua pola pendekatan pada desain silabus bahasa. Pendekatan kognitif (المدخل المعرفي) adalah pendekatan pola desain silabus dengan karangka bangun (landasan) teori transformasi generatif; yakni cara pandang (struktur bahasa) secara lebih komprehensif, sebagai kelanjutan dan inovasi pembelajaran bahasa agar lebih mempunyai dasar teori. Sedangkan pendekatan komunikatif (المدخل الاتصالي) adalah pendekatan dengan karangka bangun (landasan) teori fungsi komunikatif bahasa (sosiolinguistik), sebagai kritik lanjut terhadap pendekatan kognitif yang terkristal dalam sebuah pendekatan dan metode pembelajaran yang lebih aplikatif.[1] Pertimbangan bangunan teori pendekatan kognitif adalah pentingnya wawasan tentang keberagaman persoalan kegramati-kalan (grammaticality) yang dipandang sebagai satu kesatuan untuk memahami makna bahasa yang dimaksud dalam sebuah ungkapan. Sedangkan bangunan pendekatan komunikatif lebih mengorientasikan kecocokan (appropriateness), kontes sosiokultural atau kecocokan kontekstual (contextual appopriacy). Dengan kata lain, bahasa lebih tepat dilihat sebagai suatu yang berkenaan dengan apa yang dapat dilakukan dengan bahasa, atau makna apa yang dapat diungkapkan melalui bahasa, bukan dilihat dari setiap unsur bahasanya.
Apabila dihubungkan dengan kurikulum pembelajaran bahasa di Indonesia pada tingkat SMU/MA; maka standar isi yang ditetapkan Departemen Agama untuk pembelajaran bahasa Arab adalah berada pada livel pendekatan Kognitif, karena dipandang sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa sebagai sarana untuk memahami teks-teks berbahasa Arab dan keberterimaan Indonesia sendiri. Sedangkan untuk potret aplikasi yang ditawarkan Dinas Pendidikan dan Departemen Agama pada matapelajaran bahasa Indonesia, Inggris dan bahasa Asing lainnya adalah pembelajaran bahasa dengan orientasi komunikatif.[2]
B. Pembahasan
1. Pendekatan Kognitif
a. Latar Belakang
Latar belakang munculnya pendekatan kognitif (المدخل المعرفي) ini, adalah evaluasi terhadap pembelajaran bahasa asing dengan menggunakan metode السمعية الشفوية, dengan pendekatan aural-oral yang didasarkan atas teori linguistik strukturalis/deskriptif dan ilmu jiwa behaviorisme/taksonamik. Sedangkan konsep (المدخل المعرفي) ini mencoba menawarkan landasan linguistik transformasi-generatif (النظرية التحويلية الابتكارية), landasan psikologi kognitisme (النظرية المعرفية) dengan teori LAD (Language Acquisition Device) psiko-linguistik.[3] Dan menawarkan karangka bangunan yang lebih komprehensif. Sehingga bahasa asing dipelajari secara utuh sabagai satu kesatuan.
Konsep pendekatan dan metode ini dirasakan para pengajarar bahasa lebih jelas, setelah penerbitan artikel-artikel JB. Carroll di majalah ’Modern Language Jurnal’ (MLJ); yang mengulas tentang ilmu jiwa belajar dan hubungannya dengan pembelajaran bahasa asing, serta buku S. Kaldmann ’Trends in Language Teaching’ yang lebih mengoprasinalkan konsep JB. Carroll itu.[4]
Namun walau bagaimanapun, sebenarnya konsep silabus yang ditawarkan pendekatan ini, tetap ditekankan pada persoalan kegramatikalan (grammaticality). Sebagaimana yang telah dikenal oleh pendekatan klasik, hanya saja pembelajaran diorientasikan untuk penguasaan seluruh keterampilan bahasa dan lingkup kontaks bahasa dan nilai pragmtis bahasa serta didasarkan pada suatu asumsi yang mempunyai landasan teori. oleh karena itu, diantara para ahli pembelajaran bahasa menyebutnya sebagai modifikasi metode القواعد والترجمة.[5]
b. Asumsi Pembelajaran Bahasa
Dalam hal asumsi, bahasa dilihat sebagai sebuah bentuk bangunan yang utuh dan terdiri dari satuan-satuan kaidah, yang masing-masing memiliki bagian-bagian yang kompleks, pembelajaran harus bermakna, Dan pengetahuan yang sadar tentang tata bahasa adalah penting.[6] Dalam hal ini, sebuah kalimat dipandang sebagai kolaborasi hubungan satuan-satuan kaidah yang tak terpisahkan; jadi kalimat adalah pikiran dan kalimat juga berarti makna, oleh karena itu tokoh yang memainkan peran dalam pendekatan ini disebut aliran ini البنوي في وصف اللغة.[7]
Sedangkan dalam konsep pembelajaran bahasa; bahasa dipelajari sebagai satu bangunan makna, yang mengandung unsur ekternal (struktur luar) dan internal (struktur dalam); struktur luar adalah bentuk ujaran/tulisan, dan struktur dalam adalah konteks bahasa (السياق اللغوي). Pembelajaran bahasa diarahkan pada hubungan yang ada pada masing-masing unsur; fonologi, leksekologi dan gramatikalnya, bahasa dipandang secara universal; yakni terdapat persamaan di setiap bahasa yang digunakan manusia, sebagaimana adanya persamaan antara bahasa Indonesia dan Arab disamping berbedaan-perbedaan pada aspek tertentu.
c. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah memiliki kompetensi (competence) berbahasa secara komprehensif sehingga seseorang (siswa) dapat ’memberlakukan’ (performance) kompetensi itu dalam ungkapan ujaran atau pemehaman teks, baik itu melingkupi cabang-cabang ilmu bahasa (Qawaid, Terjemah, Ta’bir, dan sebagainya), unsur bahasa (Aswat, Mufradat dan Tarakib), atau kemampuan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis), yang berisi ungkapan-ungkapan bahasa yang beraneka ragam, dengan landasan gramatikal yang
Jadi bentuk pragmatis yang paling konkrit dari pendekatan kognitif adalah kepemilikan kompetensi membaca dan memahami teks berbahasa Arab pada livel tertentu, sesuai dengan batasan satuan pendidikan siswa. Dengan demikian disengaja atau tidak, terdapat kecocokan dengan tujuan yang tujuan pengajaran bahasa Arab di Indonesia pada kurikulum 2006 (KTSP) yang ditetapkan dalam Standar Isi oleh Departemen Agama sebagaimana disebutkan:
Perogram pembejaran bahasa Arab secara umum memiliki tujuan agar peserta didik berkembang dalam hal;
1. Kemampuan mendengarkan, berbicara , membaca dan menulis secara baik ;
2. Berbicara secara sederhana tapi efektif dalam berbagi konteks untuk menyampaikan informasi, pikiran dan perasaan , serta menjalin hubungan sosial dalam bentuk kegiatan yang beragam, interaktif dan menyenangkan;
3. Menafsirkan isi berbagai bentuk teks tulis pendek sederhana dan merespon dalam bentuk kegiatan yang beragam, interaktif dan menyenangkan;
4. Menulis kreatif, meskipun pendek sederhana dalam berbagai bentuk teks untuk menyampaikan informasi mengungkapkan pikiran dan perasaan;
5. Menghayati dan menghargai karya sastra;
6. Kemampuan untuk berdiskusi dan menganalisa teks secara kritis;
7. Perbendaharaan kata Arab fusha sebanyak 750 kosakata pada jenjang Aliyah, dengan jumlah keseluruhan dari jenjang Ibtidaiyah sebanyak 1500 kosa kata;
8. Dengan penguasaan kosakata dengan kaidah dan pelafalan yang benar sebagaimana tersebut di atas, peserta didik diharapkan mampu berbahasa Arab secara reseftif maupun ekpresif.[8]
d. Metode dan Teknik Pembelajaran
Jack C Richards and Theodore S. Rodgers menawarkan الطريقة الصامتة (metode Guru diam/The Silent Way), طريقة الاستجابة الجسدية الكاملة / الطريقة التفاؤلية (Respon Psikomotorik secara menyeluruh/Total Physical Respon), dan التعليم الإرشادي, sebagai bentuk tindak lanjut pendekatan silabus ini pada tataran aplikatifnya. Namun, penulis berpandangan justru ini merupakan bentuk baru metode pembelajaran bahasa yang dimunculkan akibat ketidak jelasan dari konsep المدخل المعرفي pada tataran metode dan teknik sebagaimana konsep yang diperkenalkan Chomsky.[9]
Di sisi lain, Bambang Kaswanti Porwo melihat dalam sudut pandang pendekatan materi – menurut dia, jenis aplikasi (metode) pendekatan ini dapat dibagi kedalam dua kelompok; yakni:
1. kelompok dengan pendekatan penguraian tata bahasa terlebih dahulu, baru struktur bahasa ditampilkan (pendekatan deduktif / قياسية), yang aplikasinya akan berupa: Grammer Translation Method (طريقة القواعدوالترجمة )
2. kelompok dengan pendekatan pembelajaran materi-materi bacaan terlebih dahulu, baru siswa diarahkan untuk menyimpulkan unsur gramatikal yang ada di dalam materi tersebut, maka dalam aplikasinya akan berbentuk Direct Method (طريقة المباشرة), atau Audio Lungual Method (السمعية الشفوية).[10] Dengan menanggalkan sebagian ciri khas kedua metode itu, yakni pembolehan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan mengurangi alokasi drill.
Sedangkan Dr. Shalah Abdul Majid al’Araby mnyebutkan jenis metode khusus untuk pendekatan kognitif ini yakni metode Cognitif Code Learning (طريقة الفهم وحل الرموز اللغوية).[11] Namun menurut Thu’aimah ini merupakan nama lain dari pendekatan tersebut bukan jenis metode tertentu.
Adapun penulis memposisikan pandangan pada kesesuaian satuan teknik yang diterapkan suatu metode dengan asumsi pembelajaran bahasa dan teori yang mendasari pendekatan kognitif ini, dengan demikian walaupun ada metode dasar (seperti metode Cognitif Code Learning, metode Grammer Translation dan lain-lain) yang sering dipasangkan para ahli pengajaran bahasa asing sebagai bentuk aplikatif pendekatan ini, namun itu bukanlah batasan. Jadi pendekatan ini dapat diaplikasikan dalam jenis semua metode, asalkan dalam tekniknya memuat asumsi bahasa dan pengajarannya yang sesuai dengan teori generatif transformatif dan cakupannya serta teori kognitifisme.
Pernyataan penulis ini didasarkan pada penegasan Bapak Prof. Dr. Aziz Fachrurrozi pada perkuliahan Metodologi Pengajaran Bahasa Arab (Kamis, tanggal 24 Mei 2007), yang mengatakan:
”Dalam penerapan suatu pendekatan pengajaran bahasa – termasuk Kognitif dan Komunikatif – tidak terikat pada jenis metode tertentu. Namun lebih didasarkan pada kesesuain teknik metode itu dengan asumsi bahasa sebuah pendekatan. Pendekatan kognitif dapat diaplikasikan dalam metode القواعد والترجمة، المباشرة، القراءة dan lain sebagainya”.
Pernyataan penulis di atas juga merupakan bentuk generalisasi dari pernyataan Prof. Mackey yang menyebutkan kecocokan 15 jenis metode pengajaran (semua jenis metode pembelajaran bahasa Asing yang sering disebutkan para ahli bahasa) bahasa asing dengan pendekatan Aural-Oral Approach disamping Audio-Lingual dengan syarat disertai dengan pola dasar mim-mem dan pettern practice (latihan pola) yang merupakan pola dasar pengembangan asumsi pendekatan aural-oral approach dalam teknik pengajaran ke-15 metode itu.[12]
e. Silabus Pembelajaran Bahasa
Prinsip karangka silabus dibangun dengan pola pikir:
1. Materi silabus diformulasikan untuk tujuan pencapaian keempat keterampilan berbahasa, dengan mengedepankan keterampilan membaca dan menulis dari menyimak dan bercakap; namun tujuan akhir dari pembelajaran bahasa asing (disini) adalah kemampuan untuk menerapkan kaidah gramatikal);
2. Unsur-unsur internal bahan bacaan (nizham Shautiy, Nahwiy, Sharfiy) lebih diberikan penekanan dibandingkan dengan siyaq.
3. Materi dibagi dalam tiga gradasi:
a. Pemahaman kaidah dengan metode istinbathiah sebagai langkah awal;
b. Studi diantara teks-teks bacaan dengan ditambah media menyimak (atau dari guru sendiri) sebagai pelengkap, untuk tingkat menengah;
c. latihan bentuk-bentuk penggunaan bahasa dalam berbagai lapangan dan konteks untuk mustawa mutaqaddimah.
4. Keterampilan berbicara/bercakap hanya dianggap sebagai keteram-pilan pendukung; dengan demikian, tidak dimasukkan materi khusus tentang hiwar.[13]
Berdasarkan prinsip karangka silabus di atas, maka ruang lingkup materi pembelajaran bahasa Arab pendekatan kognitif ini meliputi:
1. Unsur Bahasa; yakni:
a. Bentuk Kata (sharf);
b. Struktur Kalimat (nahw);
c. Mufradat; dan
d. Konteks kebahasaan.
2. Kegiatan berbahasa, yakni:
a. Membaca (qira’ah); yang mengajarkan keterampilan berbahasa untuk mengembangkan kemampuan memahami makna bahan bacaan berdasarkan konteks kebahasaan tertentu;
b. Berbicara; melalui kegiata tanya jawab tentang bahan bacaan, untuk mendukung pemantapan keterampilan membaca; dan
c. Menulis; melalui kegiatan insya’ muwajjah, yang mengajarkan kemampuan menyusun kalimat untuk mendukung pemantapan keterampilan membaca.[14]
Secara umum proses pembelajaran bahasa Arab dengan pendekatan kognitif – sebagaimana yang bisa disimpulkan dari aspek-aspek pembelajaran bahasa yang sesuai dengan prinsip pendekatan kognitif - dari tahap pemberian stimulus, spesifikasi pada arpek kebahasaan, menghubungankan materi dengan bahasa ibu (LAD).[15]
f. Kekuatan dan Kelemahan Pendekatan Kognitif
Diantara bentuk kekuatan pendekatan kognitif adalah:
1. Dengan prinsip (Language Acquisition Device), kepercayaan diri siswa dalam mempelajari bahasa Arab akan terbangun dan terkesan mudah, dan ini dapat menjadi motivasi bagi siswa dalam pembelajaran. Karena guru dalam teknik pembelajarannya berpijak pada asumsi bahwa setiap siswa memiliki alat penerimaan bahasa dan kesemestaan bahasa, yang memudahkannya untuk mempelajari bahasa Asing (Arab).
2. Bagi umat muslim – seperti siswa Madrasah Aliyah di Indonesia – pembelajaran bahasa Arab dengan pendekatan ini akan lebih membantu untuk sampai pada tujuan pembelajaran; yakni memahami leteratur wawasan keilmuan dan sosial keagamaan yang berbahasa Arab;
3. Pembelajaran bahasa Arab dapat dilakukan oleh guru yang kemampuannya konteks komunikatif dan budaya Arab minimal. Dibandingkan dengan guru yang mengajar dengan menggunakan pendekatan komunikatif. Disamping itu beban penciptaan bi’ah lugawiyah juga tidak menjadi keharusan, mengingat kemampuan berbicara siswa hanya ditekankan untuk mendukung kemampuan mereka dalam memahami makna teks bacaan dan hubungan dengan konteks kebahasaannya.[16]
Adapun bentuk kelemahan pendekatan kognitif adalah sebagaimana yang disebutkan oleh para pencetus pendekatan komunikatif seperti Dell Hymes dan lain-lain, diantaranya:
1. Keterampilan berbahasa akan dikuasi dengan tidak seimbang, karena asumsi bahwa menyimak, berbicara dan menulis adalah keterampilan pendukung untuk membaca/memahami teks bacaan.
2. Nilai pragmatis sebuah bahasa Arab akan terhenti pada pemahaman teks tertulis. Dalam hal ini terjadi dekatomi fungsi dasar bahasa, karena pengajaran bahasa tidak diorientasikan pada pencapaian kemampuan komunikatif, yang dapat difungsikan dalam hubungan politik, perdagangan dan lain sebagainya.[17]
2. Pendekatan Komunikatif
a. Latar Belakang
Banyaknya persoalan pembelajaran bahasa di Inggris, melatar belakangi para pemerhati pendidikan dan ahli bahasa pada awal tahun 60-an untuk mencari solusi terbaik, bagaimana cara mengajarkan bahasa sehinga lebih efektif dan efesien. Sementara pada saat itu, pendekatan situasional dipandang alternatif terbaik dibanding yang lain untuk dikembangkan, sedangkan para praktisi pemerintahan mamberikan arahan bagaimana pembelajaran bahasa dapat lebih pragmatis.[18]
Oleh karena itu, para ahli pembelajaran mengkritik pendekatan yang dicetuskan Chomsky dan mencari sisi pandang baru pengajaran bahasa. Solusi yang diangankan ini, juga senada dengan pandangan para filosof bahasa (seperti Austin dan Searle), Sehingga kemudian diperoleh kesepakatan ahli pembelajaran bahasa di Inggris, bahwa arah yang ditempuh adalah menanamkan kemapuan komunikasi.[19] Oleh karena itu, yang menjadi dasar pandang metode ini adalah sosiolinguistik, bukan psikolinguistik.
Kemampuan komunikasi ini dipandang penting, karena pada saat itu dirasakan makin besarnya saling ketergantungan negara-negara Erofa secara ekonomis, ini mengakibatkan EEC (Eurofean Economic Communicaty) menekankan pentingnya penguasaan bahasa komunikasi. Pada gilirannya, badan inilah yang mensponsori rapat-rapat/seminar-seminar internasional pengajaran bahasa, menerbitkan tulisan-tulisan (buku, monograf dan artikel) mengenai pengajaran bahasa (komunikatif), dan mendorong aktif pembentukan International Assocition of Applied Linguistics (Himpunan Internasional Linguistik Terapan), sehingga pendekatan komunikatif ini mendapat perhatian sangat serius dari kalangan lembaga-lembaga pendidikan dan bahasa di Inggris, negara-negara Erofa lain dan Amerika. Terutama seteleh dilaksanakan seminar Council of Europe di Swiss (1971), dan konsepnya menjadi lebih jelas, setelah ditulisnya artikel tentang ’kemampuan komunikatif’ oleh Dell Hymes (1972).[20] Pada perkembangannya pendekatan dan metode ini diaplikasikan dalam pembelajaran bahasa sampai sekarang dibanyak negara termasuk Indonesia.
b. Asumsi Pembelajaran Bahasa
Dalam hal ini, metode komunikatif didasarkan atas asumsi bahwa setiap manusia memiliki kemampuan bawaan yang disebut dengan alat pemerolehan bahasa (Language Acquisition Device), artinya bahasa dipengaruhi oleh kemampuan internal anak. penedekatan komunikatif juga memandang hakikat bahasa dilihat dari segi fungsinya sebagai alat komunikasi dan bukan bentuknya. Dengan perkataan lain, bahasa dipelajari dan digunakan untuk meminta maaf, menyapa, membujuk, menasehati, memuji, atau untuk mengungkapkan makna tertentu, tetapi tidak untuk membeberkan kategori-kategori gramatikal yang ditemukan oleh para ahli bahasa. Bahasa juga dianggap sebagai salah satu fenomena dalam bangunan sosial oleh karena itu harus dapat menjalankan fungsi-fungsi sosial.[21]
Asumsi yang lain lain ialah bahwa belajarar bahasa kedua dan bahasa asing sama seperti belajar bahasa pertama, yaitu berangkat dari kebutuhan dan minat pelajar. Oleh karena analisis kebutuhan dan minat belajar merupakan landasan dalam pengembangan materi belajar.[22]
c. Tujuan Pembelajaran
Tujuan yang dicanangkan dalam pendekatan komunikatif adalah ’tercapainya kemampuan komunikatif berbahasa’, yakni penguasaan secara naluri yang dipunyai seorang penutur asli atau bagaikan penutur asli, untuk menggunakan dan memahami bahasa secara wajar (appropriately), alami dan sesuai dengan esensinya (sebagai alat komunikasi).
Dari tujuan umum tersebut, dapat dijabarkan pada pencapaian kompetensi berbahasa sebagai berikut:
1. Kompetensi gramatikal dan unsur-unsur kalimat lain;
2. Kompetensi sosiolinguistik; agar individu dapat memahami konteks dalam berkomunikasi dan berhubungan dengan sesama,
3. kompetensi menganalisis teks dan konteks dan mengetahui hubungan unsur-unsur di dalam (teks dan konteks) secara komprehensif,
4. Kompetensi strategi; agar individu mampu menentukan metode, teknik dan strategi yang cocok untuk memulai komunikasi dan kapan mengakhirinya, mampu menarik perhatian orang lain dan hal-hal lain yang menyempurnakan arus komunikasi dan maksimalnya pencapai tujuan.[23]
d. Langkah-Langkah Pembelajaran
Tidak ada metode khusus yang ditunjuk para peletak pendekatan ini dalam buku-buku mereka. Namun, di akhir pembicaraan tentang sub-bahasan ini Nayif Kharma mengatakan, bahwa teknik yang mungkin dilakukan adalah dengan cara membentuk بيئة لغوية yang sempurna (persis seperti kondisi yang ada pada pemilik bahasa asli), namun inipun menurutnya sangat sukar dilakukan, kecuali berada pada lingkungan yang memiliki budaya sama pula.
Adapun teknik pembelajaran pendekatan ini, menurut Thu’aimah adalah sebagai berikut:
1. Guru memberikan materi الحوار berdasarkan konteks/peristiwa tertentu;
2. Guru memberikan contoh pengucapan metode الحوار kemudian diikuti siswa; dengan cara bersama-sama, berkelompok, sendiri-sendiri;
3. Melontarkan pertanyaan tentang materi الحوار yang telah dipelajari;
4. Guru menyimpulkan esensi yang telah dipelajari, menjelaskan konteks yang tempat untuk materi itu, fungsi komunikatif apa yang akan dicapai dengan materi itu dan bagaimana menyampaikannya secara efektif;
5. Siswa ditugaskan untuk mempraktekkan الحوار dalam berbagai kesempatan dan fungsi konteksnya;
6. Siswa mereproduksi الحوار yang telah dipelajari dalam ungkapan mereka sendiri;
7. Siswa melaksanakan dialog sesama mereka secara bebas-tertarah, dan atau bebas;
8. Guru memberikan evaluasi dalam bentuk PR tertulis;
9. Terakhir guru melaksanakan evaluasi secara lisan dan evaluasi dilakukan dengan ungkapan bebas dari siswa berdasarkan konteks tertentu yang diarahkan oleh guru.[24]
e. Silabus Pembelajaran Bahasa
Secara gelobal Thu’aimah menyebutkan muatan-muatan pokok fungsi bahasa yang harus ada pada karangka silabus komunikatif sebagai berikut:
1. الوظيفة النفعيةinstrumental function ؛ويقصد بها استخدام اللغة للحصول على الأشياء المادية، مثل الطعام والشراب.
2. الوظيفة التنظيمية reguiatory function؛ويقصد بها استخدام اللغة من أجل اصدار أوامر للآخرين وتوحيد سلوكهم.
3. الوظيفة التفاعليةintreractional function ؛ويقصد بها استخدام اللغة من أجل تبادل المشاعر والأفكار بين الفــرد والآخرين.
4. الوظيفة الشخصية personal function؛ويقصد بها استخدام اللغة من أجل أن يعبر الفرد عن مشاعره وأفكاره.
5. الوظيفة الاستكشافية heuristic function؛ويقصد بها استخدام اللغة من أجل الاستفسار عن أسباب الظواهر والرغبة في التعلم منها.
6. الوظيفة التخيلية imaginative function؛ويقصد بها استخدام اللغة من أجل التعبير عن تخيلات وتصورات من إبداع الفرد وإن لم تتــطابق مع الواقع.
7. الوظيفة اليانية representational function؛ويقصد بها استخدام اللغة من أجل تمثل الأفكار والمعلومات و توصيلها للآخرين.[25]
Adapun asas gradasi yang dipegang adalah tahapan prioritas fungsi bahasa. Dengan demikian fungsi komunikatif apa yang harus dijalankan bahasa untuk pertama kali, itulah yang dipenuhi materi.[26]
Pola silabus pembelajaran bahasa kedua dan asing di Indonesia untuk tingkat SMU-1994/MA-1996 menggunakan pendekatan Komunikatif dengan ’model ragam fleksibel’; yakni:
1. Silabus (GBPP) memuat komponen tujuan, tema dan sub tema, keterampilan fungsional dan contoh ungkapan komunikasi (الحوار),
2. tujuan dirumuskan komunikasi dirumuskan, dengan bertumpu pada keterampilan berbahasa,
3. tema dijadikan dasar pengembangan bahan proses belajar,
4. Fleksibalitas model silabus ini terletak pada klewesan urutan tema, keterampilan fungsional dan contoh ungkapan komunikatifnya, dan bahwa urutan ketiganya tidak harus paralel,
5. Struktur tidak dicantumkan secara tersurat agar tidak dijadikan fokus dalam proses belajar mengajar.[27]
Adapun al-’Araby menekankan penggunaan teknik yang bersifat menari dengan dukung oleh media pembelajaran yang modern; diantara teknik yang dia tawarkan adalah:
1. Pembentukan bi’ah lughawiyah yang serupa dengan lingkungan asli,
2. Pemberian pengalaman lapangan dan budaya asli
3. Dialog dan debat,
4. Dramatisasi,
5. Pembentukan kelompok belajar (terdiri dari beberapa orang) untuk drill materi takallum yang telah ditentukan topik dan kontek sosialnya.
6. Pembentukan pasangan berbicara (masing-masing terdiri dari dua siswa) untuk drill materi takallum yang telah juga ditentukan topik dan kontek sosialnya [28].
Walaupun demikian disadari bahwa kurikulum pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, bahkan sampai pada kurikulum 2006 untuk tingkat Madrasah Aliyah, walaupun disebutkan dalam dalam salah satu rambu-rambu pembelajaran (poin d); bahwa ’belajar balajar bahasa asing adalah belajar bekomunikasi melalaui bahasa tersebut’.[29] Namun belum mencanangkan keterampilan komunikasi ujaran secara luas, bahkan hanya menekankan pada kemampuan membaca dan memahami teks sosial budaya agama. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Prof. Dr. HD. Hidayat, MA pada perkuliahan Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab, tanggal 6 Juni 2007.
Mengenai bahan ajar dalam pendekatan/metode komunikatif dikelompokkan menjadi tiga; yakni 1) bahan ajar yang berdasarkan teks, 2) bahan ajar yang berdasarkan tugas, dan 3) bahan ajar yang berdasarkan otentik komunikasi.
6. Kekuatan dan Kelemahan Pendekatan Komunikatif
Ahmad Fuad Effendy menyebutkan kekuatan pendekatan komunikatif sebagai berikut:
1. Siswa termotifasi dalam belajar karena pada hari pertama pelajaran, langsung dapat berkomunikasi dengan bahasa Arab (dalam batas fungsi, nosi, kegiatan berbahasa dan keterampilan tertentu).
2. Siswa lancar berkomunikasi, dalam arti menguasai kompetensi gramatikal, sosiolinguistik, wacana dan strategis.
3. Suasana kelas hidup dengan aktivitas komunikasi antar pelajar dengan berbagai model interaksi dan tingkat kebebasan yang cukup tinggi, sehingga tidak membosankan.
Adapun kelemahan pendekatan ini adalah:
1. Memerlukan guru yang menguasai keterampilan komunikasi secara memadai dalam bahasa Arab, serta wawasan yang cukup tentang kebudayaan penutur asli bahasa Arab.
2. Kemampuan membaca dalam keterampilan tingkat ambang tidak mendapat perhatian yang cukup.
3. Loncatan langsung pada keterampilan komunikasi dapat menyulitkan siswa pada tingkat permulaan.

3. Perbandingan Pendekatan Kognitif dan Komunikatif
Terdapat beberapa persamaan mendasar antara kedua pendekatan ini diantara yang terpenting:
No
Bentuk Persamaan
1
Keduanya berada pada tataran pendekatan; walaupun kognitif dan komunikatif juga merupakan nama dari metode pada aplikasinya (menurut sebagian ahli pembelajaran bahasa)
2
Terbentuk dari kritik terhadap metode Audio Lingual
3
Berdasar pada teori linguistik transformasi – generatif
4
Masing-masing memiliki dasar teori pandang bahasa (namun sudut pandang berbeda)
5
Telah teruji dicoba dibeberapa negara dan bahasa
6
Direkomendasikan oleh pemerintah diaplikasikan di Indonesia
Sedangkan perbedaan mendasar antara kedua pendekatan ini diantaranya[30]:

No
Kognitif
Komunikatif
1
Dasar bangunannya LAD dalam psikolinguistik
Dasar bangunannya sosiolinguistik
2
Bahasa sebagai objek yang menjadi tujuan pembelajaran
Bahasa dipelajari sebagai alat yang berfungsi komunikasi
3
Kompetensi adalah memaha-mi makna dan unsur-unsur kalimat sesuai dengan suatu konteks bahasa (السياق اللغوي)
Kompetensi adalah kemampuan menggunakan bahasa sesuai konteks sosial (السياق الاجتماعي)
4
Tahapan berdasarkan tingkatan gramatikal
Tahapan berdasarkan konteks dan fungsi komunikasi
5
Memahami makna dalam kalimat diprioritaskan
Memahamkan maksud dalam komunikasi diprioritaskan
6
Kemampuan berbicara berada di akhir proses yang didapat karena banyak bergelut dengan bahasa
Kemampuan berbicara ditekankan sejak awal
7
Bahasa adalah hal yang tidak boleh dimulai dari sebuah kesalahan
Bahasa adaah alat yang dipunyai setiap orang setelah mencoba dan melalui kesalahan
8
Direkomendasikan diaplikasikan pada pembelajaran bahasa Arab
Direkomendasikan diaplikasikan pada pembelajaran bahasa Indonesia, Inggris dan bahasa asing lain

C. Penutup
Demikian pembahasan makalah yang sangat sederhana ini tentang Pendekatan Kognitif dan Pendekatan Komunikatif , yang disajikan secara singkat, padat, tepat, akurat, actual tajam dan terpercaya. Mudah-mudahan ada hikmah dan manfaat yang dapat diambil. Saran dan kritik yang membangun dari para pembaca sangat penulis harapkan guna perbaikan makalah ini selanjutnya



DAFTAR PUSTAKA
Ali Yunus, Fathi dan Muhammad Abdurrauf, al-Marji’ Fi Ta’lim al-Lughah al-’Arabiyah Li al-Ajanib, Maktabah Wahbiyah, Kairo, Cet. 1, 2003
Departemen Agama RI, Standar Isi Madrasah Aliyah, Direktorat Jendral Pendidikan Islam, Jakarta, 2006
Djajasudarma,T. Fatimah, Semantik 1: Pengantar Kearah Ilmu Makna, (Bandung: PT. ERESCO, Cet. I, 1993), hal. 1
Effendy, Ahmad Fuad, Metodelogi Pengajaran Bahasa Arab, Percetakan Misykat, Malang, Cet. 3, 2005
Kharma, Nayif, dan ‘Aliy Hajjaj, al-Lughat al-Ajnabiyah Ta’allumuha Wata’limuha, al-Majlis al-Wathani li al-Tsaqafah Wa al-Funun Wa al-Adab, Kuwait, 1988,
Majid, Shalah Abdul al-‘Arabiy, Ta’allum al-Lughat al-Hayyah Wa Ta’limuha: Baina al-Nazariyat Wa al-Tathbiq, Beirut: Maktabah Lubnan, Cet. 1, 1981
Nababan, Sri Utari Subyekto, Metodologi Pengejaran Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993, dalam Kapita Selekta Met. Pengajaran Bahasa Asing, dihimpun Prof. Dr. H. Aziz Fahrurrazi, M.Ag. dan Mukhshon Nawawi, A.Ag., UIN Syahid, 2006.
Parera, Jos Daneil, Linguistik Edukasional, Erlangga, Jakarta, 1987, dalam Kapita Selekta Met. Pengajaran Bahasa Asing, dihimpun Prof. Dr. H. Aziz Fahrurrazi, M.Ag. dan Mukhshon Nawawi, A.Ag., UIN Syahid, 2006.
Porwo, Bambang Kaswanti, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, Yogyakarta: Kanisius, 1990
Richards, Jack C, and Theodore S. Rodgers, Apprroaches and Methods in Language Theacing, Cambridge University, New York, 1992., dalam Kapita Selekta Met. Pengajaran Bahasa Asing, dihimpun Dr. H. Aziz Fahrurrazi, M.Ag. dan Mukhshon Nawawi, A.Ag., UIN Syahid, 2006.
Thu’aimah, Rusydi Ahmad, Ta’lim al-Arabiyah Lighairi al-Natiqin Biha, Mansyurat al-Munazzhamah al-Islamiyah Li al-Tarbiyah Wa al-’Ulum Wa al-Tsaqafah, Mesir, 1989








[1] Bambang Kaswanti Porwo mengatakan: ahli pengajaran bahasa seperti Roberts (1982), Finoccichiaro dan Brumfit (1983) dan Littlewood (1985) beranggapan gerakan ’baru’ ini lebih berurusan dengan penyusunan silabus dan bahan pengajaran daripada dengan metode pengajaran. Bambang Kaswanti Porwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hal. 50
[2] Departemen Agama RI, Standar Isi Madrasah Aliyah, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam, Jakarta, 2006), hal. 61 – 104.
[3] Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, Cet. 3, 2005), hal. 52 – 53.
[4] Rusydi Ahmad Thu’aimah, Ta’lim al-Arabiyah Lighairi al-Natiqin Biha, (Mesir: Mansyurat al-Munazzhamah al-Islamiyah Li al-Tarbiyah Wa al-’Ulum Wa al-Tsaqafah, 1989), hal. 140
[5] Rusydi Ahmad Thu’aimah, hal. 143
[6] T. Fatimah Djajasudarma, Semantik 1: Pengantar Kearah Ilmu Makna, (Bandung: PT. ERESCO, Cet. I, 1993), hal. 1
[7] Jack C Richards and Theodore S. Rodgers, Madzahib Wa Tharaiq Fi Ta’lim al-Lughat, terjemahan: Lembaga Penerjemah, judul asli: Apprroaches and Methods in Language Theacing, (Riyad: Dar ‘Alam al-Kutub, 1990), hal. 116.
[8] Departemen Agama RI, Standar Isi Madrasah Aliyah, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam, Jakarta, 2006), hal. 62
[9] Jack C Richards and Theodore S. Rodgers, (terjemahan), hal. 118
[10] Bambang Kaswanti Porwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hal. 50
[11] Shalah Abdul Majid al-‘Arabiy, Ta’allum al-Lughat al-Hayyah Wa Ta’limuha: Baina al-Nazariyat Wa al-Tathbiq, (Beirut: Maktabah Lubnan, Cet. 1, 1981), hal. 57 – 59
[12] Jos Daneil Parera, Linguistik Edukasional, (Jakarta: Erlangga, 1987), hal. 19
[13] Rusydi Ahmad Thu’aimah, hal. 139 - 144
[14] Departemen Agama RI, Standar Isi Madrasah Aliyah, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam, Jakarta, 2006), hal. 63
[15] Shalah Abdul Majid al-‘Arabiy, hal. 14
[16] Shalah Abdul Majid al-‘Arabiy, hal. 57 - 59
[17] Shalah Abdul Majid al-‘Arabiy, hal. 66
[18]Jack C Richards and Theodore S. Rodgers, Apprroaches and Methods in Language Theacing, (New York: Cambridge University, 1992), hal. 64.
[19] Sri Utari Subyekto Nababan, hal. 63
[20] Sri Utari Subyekto Nababan, hal. 63 – 64.
[21] Fathi Ali Yunus dan Muhammad Abdurrauf, hal. 123
[22] Ahmad Fuad Effendy, hal. 54 - 55
[23] Nayif Kharma dan ‘Aliy Hajjaj, hal 187 – 188
[24] Perlu ditekankan disini, bahwa sebenarnya para ahli pendidikan tidak menemukan bentuk evaluasi setandar untuk jenis pendekatan ini, mengingat selama pembelajaran siswa pada bi’ah yang kurang sempurna; yang menggambarkan budaya penutur bahasa secara tepat, oleh karena itu tidak penemukan pola baku atau terkesan dipaksakan. Rusydi Ahmad Thu’aimah, hal. 124 – 125
[25] Rusydi Ahmad Thu’aimah, hal. 120
[26]Nayif Kharma dan ‘Aliy Hajjaj, hal. 187 – 188
[27]Ahmad Fuad Effendy, hal. 64
[28] Shalah Abd al-Majid al-‘Araby, hal. 138 - 140
[29] Standar Isi Bahasa Arab Aliyah Departemen Agama RI, hal. 63 - 64
[30] Jack C Richards and Theodore S. Rodgers, hal. 130 – 132.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar