Jumat, 20 Agustus 2010

KEWAJIBAN ORANG TUA TERHADAP ANAK

KEWAJIBAN ORANG TUA TERHADAP ANAK


A. Pendahuluan

Setiap orang yang mendapat jabatan tertentu harus bertanggung jawab terhadap jabatan yang dia pegang dan harus memberikan laporan pertanggung jawababnnya pada akhir jabatannya.
Islam sebagai agama yang peduli dengan hal itu, mempunyai pegangan dan acuan tentang tanggung seseorang kepada jabatannya. Sebagaimana hadis Rasululllah Saw :
اانّ الله سائل كلّ راع عمّا استرعاه حفظ ام ضيّع (رواه ابن حباّن)
Artinya : Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban dari setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya, apakah ia memeliharanya ataukah menyia-nyiakannya. (HR. Ibnu Hibban)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah mengatakan bahwa :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِى أَهْلِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالْمَرْأَةُ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا ، وَالْخَادِمُ فِى مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ » . قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ « وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِى مَالِ أَبِيهِ » [1]
Artinya : Setiap kamu adalah pemimipin dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya, seorang imam pemimpin dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya, seorang lelaki adalh pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya, seorang perempuan pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya, dan seorang pembantu juga pemimpin bagi harta suaminya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. (HR. Muslim)


Orang tua sebagai pengasuh, pendidik dan pelindung bagi anak-anaknya, harus bertanggung jawab terhadap semua aspek pendidik anak-anaknya. Karena itu para orang tua harus menyiapkan segala hal yang diperlukan untk berhasilnya pendidikan yang akan diterapkan kepada anaknya. Maka berikut ini akan dibahas tentang tanggung apa saja yang dibebankan kepada orang tua untuk anak-anaknya.

B. Pembahasan

Secara umum kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya adalah pendidikan, baik pendidikan jasmani maupun pendidikan rohani.
Dari segi periode, pendidikan itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) periode, yaitu periode sebelum lahir (pra natal) dan periode setelah lahir (natal).[2] Namun secara materi pendidikan, tanggung jawab itu adalah pendidikan iman, pendidikan moral, pendidikan fisik, pendidikan akal (rasio), pendidikan kejiwaan, pendidikan social dan pendidikan social.[3]
Dan dari hasil pencapaian, tanggung jawab pendidikan diarahkan kepada pendidikan masa depan, yang zamannya tidak sama dengan zaman yang dilalui orang tuanya. Sekurang-kurangnya, anak-anak kita harus bisa bertahan dalam kerasnya zaman mereka.[4]
Dalam tulisan ini penulis lebih membahas tanggung jawab pendidikan iman, moral dan fisik yang dikaitkan dengan peride pendidikan sebelum dan setelah lahir.

1. Tanggung Jawab Pendidikan Iman
Pendidikan keimanan tidak hanya diberikan pada periode setelah lahir, tetapi jauh pada sebelu lahir. Ahmad Asy-Syas mengutip dari Imam Mawardi bahwa hak anak yang pertama dari bapak adalah memilihkan ibunya. Sang bapak memilih yang cantik, mulia, baik agamanya, menjaga kehormatannya, cerdas menangani urusannya, baik akhlaknya, terbukti kecerdasan dan kesempurnaan akalnya, siap menyambut suami dalam keadaan apapun.[5]
Sebagaimana Sabda Rasullah dari Abi Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ »[6]
Artinya : Nikahilah perempuan itu karena empat hal, yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya. Carilah karena factor agamanya, maka kamu akan beruntung”.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اخْتَارُوا لِنُطَفِكُمُ الْمَوَاضِعَ الصَّالِحَةَ ».(رواه الدار قطنى )[7]
Artinya : Dari Aisyah r.a bahwa Rasulullah bersabda : Pilihlah tempat bagi spermamu dari perempuan yang shaleh. (HR. Ad Dar Quthni)
Dalam hadits ini, keberadaan seoprang ibu yang beriman sangat diperlukan dalam proses pendidikan seorang anak untuk menjadi anak yang beriman. Seorang calon bapak harus mencari seorang calon ibu yang beriman yang akan mengajarkan kepada anak-anaknya tentang keimanan kepada Allah. Seorang ibu adalah madrasah pertama, maka mutu sebuah sekolah harus diperhitungkan.
Ibu adalah model bagi pendidikan rumah tangga, apalagi bagi anak perempuan. Ibu seorang ibu harus menjadi model bagi anak perempuannya. Apabila seorang ibu tidak bias menjadi model bagi nak perempuannya, maka ia akan mencari model di luar rumah. Dan belum tentu model itu sesuai dengan yang kita harapkan sesuai dengan pendidikan rumah tangga.
Ketika seorang ibu sudah masuk pada masa kehamilan maka dimulailah pendidikan langsung seorang ibu kepada anak yang dikandungnya. Emosi seorang ibu sangat menentukan emosi anak setelah lahir. Seorang ibu yang beremosi tenang dengan selalu berzikir kepada Allah, akan melahirkan anak yang beromisi terkendali. Dan sebaliknya, apabila seorang ibu yang emosinya terganggu selagi hamil, akan nampak pada emosi anak. Maka seorang suami wajib mewujudkan ketenangan emosi bagi istri yang sedang hamil dengan selalu mencukupi kebutuhan lahir bathin istri dan anak yang sedang dikandungnya.
Ibu adalah yang yang membentuk konsep cara berfikir anak dan konsep kepribadian pada jiwa anak. Hal ini membuktikan betapa besar pengaruh ibu terhadap daya emosional anak. Pembentukan jati diri dan ahklak yang mulia meerupakan hasil dari pendidikan ibu yang bertanggung jawab.[8]
Setelah kelahiran, pendidikan keimanan pertama adalah membuka kehidupan anak dengan kalimat tauhid. Yaitu dengan mengazankan dan mengiqamatkan anak pada telinga kanan dan kirinya. Sabda Rasulullah dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan Al Hakim, bahwa :
ِافْتَحُوا عَلَى صِبْيَانِكُمْ اَوَّّلَ كَلِمَةٍ بِلاَ اِلَهَ ِالاَّ الله
Artinya : Bacakanlah kepada anak-anakmu kalimat pertama dengan la ilaha illa Allah
Hak anak setelah kelahiran adalah pemberian nama yang baik. Sabda Rasulullah :
اِنَّ مِنْ حَقِّ الوَلَدِ عَلىَ الوَالِدِ اَنْ يُحْسِنَ اسْمَهُ وَ اَنْ يُحْسِنَ اَدَبَهُ
Artinya : Sesungguhnya di antara hak anak terhadap orang tuanya adalah memberi nama yang baik dan mendidiknya dengan baik. (HR. Al Haistami)
Pemberian nama yang baik kepada anak adalah sangat penting karena nama merupakan penghormatan bagi sang pemilik nama. Dan nama yang baik itu dapat memotivasi anak untuk bersikap dan berbuat sesuai dengan kandungan namanya setiap kali namanya dipanggil.[9]
Yang pertama kali harus diajarkan oleh orang tua kepada anak adalah pengenalan terhadap Allah (ma’rifatullah) dan menanamkan kecintaan terhadapnya. Kenalkan kepada anak siapa Allah, dimana Allah, dan jangan merasa berat untuk mengatakan Allah. Karena kebanyakan orang hanya berani mengatakan kata “tuhan”.
Setelah anak mulai tumbuh, kenalkan hokum-hukum halal dan haram. Sebagaimana kata Rasulullah
“Ajarkanlah mereka untuk taat kepada Allah dan takut kepada berbuat maksiat kepada Allah serta suruhlah anak-anakmu untuk mentaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Karena hal itu akan menjauhkan mereka dan kamu dari api neraka”.[10]
Pendidikan selanjutnya adalah shalat yang diajarkan ketika anak sudak bisa masuk usia pendidikan. Rasulullah mengajarkan untuk menyuruh anak mengerjakan shalat pada usia tujuh tahun. Adapun sebelum masa itu, merupakan masa perkenalan. Barangkali hal ini pula yang menjadi dasar bahwa pendidikan dasar dimulai pada usia tujuh tahun.
Firman Allah Ta’ala :
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
Artinya : Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya..(QS. Thaha : 132)

Rasulullah bersabda yang diriwayatkan dari Amru Bin Syu’aib :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ . (رواه ابو داود).[11]
Artinya : Suruhlah anak-anakmu untuk mengajarkan shalat pada umur tujuh tahun dan pukullah apabila meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.

Kata muru dalam hadits di atas, berarti perintahlah bukan berarti ajarkan. Maka perintah shalat sudah mulai umur tujuh tahun sedangkan masa sebelum tujuh tahun adalah masa untuk mengenalkan shalat pada anak.
Rahasianya bahwa umur tujuh sampai sepuluh tahun adalah masa pemantapan proses pendidikan shalat dan masa optimalisasi pendidikan shalat. Para orang tua jangan sampai lengah pada masa-masa ini. Apabila pada masa fase ini pendidikan tidak berhasil, akan mempengaruhi aplikasi shalat itu pada masa remaja dan dewasa. Apabila terjadi pemukulan anak pada usia sepuluh tahun atau masa remaja awal, menandakan kegagalan pendidikan shalat di rumah tangga.

2. Tanggung Jawab Pendidikan Moral
Yang dimaksud dengan pendidikan moral adalah pendidikan tentang prinsip dasar moral dan keutamaan sikap serta watak yang harus dimiliki dan dijadikan sebagai kebiasaan oleh anak sejak masa pemula sehingga ia menjadi mukallaf, yakni siap untuk mangarungi lautan kehidupan.
Pendidikan moral anak tidak hanya dimulai pada masa kelahiran, tapi jauh hari sebelum masa kelahiran, yaitu dimulai dari masa pemilihan calon ibu. Ibu yang bermoral dan berakhlak mulia, insya Allah akan melahirkan anak-anak yang bermoral dan berakhlak mulia.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اخْتَارُوا لِنُطَفِكُمُ الْمَوَاضِعَ الصَّالِحَةَ ».(رواه الدار قطنى )[12]
Artinya : Dari Aisyah r.a bahwa Rasulullah bersabda : Pilihlah tempat bagi spermamu dari perempuan yang shaleh. (HR. Ad Dar Quthni)

Moral, sikap dan tabiat adalah salah satu buah dari iman. Jika semenjak kecil, anak-anak tumbuh dan berkembang dengan berpijak pada landasan iman kepada Allah, terdidik untuk selalu takut kepada Allah, dan meminta pertolongan serta berserah diri kepada Allah, maka ia akan memiliki akhlak yang mulia.[13] Maka pemilihan calon ibu yang beriman adalah mutlak, demi terwujudnya anak-anak yang bermoral dan berakhlak mulia.
Indra Gandi, seorang pemimpin India mengatakan bahwa “Agama dan moral yang luhur adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Agama adalah roh moral, sedangkan moral meru[pakan cuaca bagi roh itu”.[14]
Kant, seorang filosofis exixtensialisme mengatakan bahwa “Moral tidak akan tercipta tanpa adanya tiga keyakinan, yaitu keyakinan adanya Tuhan, kekalnya roh dan adanya perhitungan setelah mati”.[15]
Tidak aneh jika Islam sangat memperhatikan pendidikan anak dari aspek moral dan mengeluarkan petunjuk yang sangat berharga dalam membentuk anak dan kengajarkan akhlak yang tinggi.
Dengan demikian, Rasulullah mengajarkan :
اكرموا اولادكم و احسنوا ادبهم
Artinya : Muliaknalah anak-anakmu dan didiklah mereka dengan akhlak yang baik (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)

علّموا اولادكم الخير و ادّبواهم
Artinya : Ajarkanlah kepada anak-anakmu kebaikan dan didiklah mereka dengan akhlak yang mulia. (HR. Abdu Razak dari Ali r.a)

اِنَّ مِنْ حَقِّ الوَلَدِ عَلىَ الوَالِدِ اَنْ يُحْسِنَ اسْمَهُ وَ اَنْ يُحْسِنَ اَدَبَهُ
Artinya : Sesungguhnya di antara hak anak terhadap orang tuanya adalah memberi nama yang baik dan mendidiknya dengan baik. (HR. Al Haistami)
Penanaman nilai-nilai moral dan akhlak mulia harus dimulai dari masa-masa kecil. Hal itu akan menimbulkan kebiasaan untuk berperilaku bermoral yang dan berakhlak mulia pada masa-masa selanjutnya.

3. Tanggung Jawab Pendidikan Fisik
Tujuan dari pendidikan fisik adalah agar anak tumbuh dewasa dengan fisik yang kuat, sehat, bergairah dan bersemangat.
Pendidikan fisik juga dimulai jauh hari sebelum kelahiran, yaitu ketika memutuskan pilihan terhadap pasangan. Hendaklah seorang calon ibu atau calon bapak memilih pasangan yang berbadan sehat, kuat dan ideal serta terjauh dari memakan makanan yang haram.
Diantara pendidikan fisik selain yang tersebut di atas adalah perawatan kandungan pada masa kehamilan, pendidikan olah raga pada masa setelah lahir dan menjauhkan anak dari perbuatan yang membahayakan kesehatan
Perawatan kandungan pada masa kehamilan adalah masa awal pendidikan fisik. Pada masa ini seorang ibu haruslah memakan makanan yang sehat dan bergizi agar janin tumbuh dengan sehat dan lahir sebagai anak yang berbadan sehat. Sabda Rasullah :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ [16]».

Artinya : dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah bersabda : Seorang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari pada muslim yang lemah (HR. Muslim)

Setelah lahir anak harus diberi makan dengan makanan yang sehat dan halal.
Di antara pendidik fisik yang diajarkan Rasulullah untuk anak adalah mengajarkan mereka olah raga dan bermain ketangkasan. Firman Allah :
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
Artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (QS. Al-Anfal : 60)

Rasulullah juga mengisyaratkan untuk mendidik anak dengan keterampilan berkuda, memanah dan berenang. Tetapi tujuan sesuai kontek masa itu lebih terorientasi kepada bekal berjuang dan berjihab pada jalan Allah.
Untuk menjaga kesehatan anak, hendaklah menjauhkan mereka dari perbuatan yang merusak Seperti merokok , miniman keras dan narkoba, onani, berzina dan homoseksual.[17]

Demikianlah tulisan ini, semoga ada manfaatnya. dan tentu saja banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu penulis memohon maaf sebanyak-banyaknya.
[1] Aidia Nurfitra.Com, Hadits Bukhari, Bab Washaya, Hadit No 2751,
[2] Hidayatullah Ahmad Asy Syas, Ensiklopedi Pendidikan Anak Muslim, (Jakarta : Fikri Rabbani Group), hal. 27
[3] Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Islam, (Jakarta : Pustaka Amani), Hal. 149
[4] Abdul Karim Bakar, 75 Langkah Cemerlang Melahirkan Anak Unggul, (Jakarta : Rabbani Pres) hal. vii
[5]Hidayatullah Ahmad Asy Syas, hal. 28
[6] Aidia Nurfitra.Com, Hadits Bukhari, Bab Niakah, Hadit No 5090
[7] Aidia Nurfitra.Com, Hadits Ad Dar Quthni ِ, Bab Nikah, Hadit No 3832
[8] Hidayatullah Ahmad Asy Syas, hal. 77
[9] Hidayatullah Ahmad Asy Syas, hal. 50
[10] Abdullah Nashih Ulwan, Hal. 152
[11] Aidia Nurfitra.Com, Hadits Abu Daud ِ, Bab Shalat, Hadit No 495
[12] Aidia Nurfitra.Com, Hadits Ad Dar Quthni ِ, Bab Nikah, Hadit No 3832
[13] Abdullah Nashih Ulwan, Hal. 177
[14] Abdullah Nashih Ulwan, Hal. 180
[15] Abdullah Nashih Ulwan, Hal. 180
[16] Aidia Nurfitra.Com, Hadits Muslim Bab Al-Qadar , Hadit No 6945
[17] Abdullah Nashih Ulwan, Hal. 234-266

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar