Jumat, 23 November 2012

MEMBASMI KESYIRIKAN


MEMBASMI KESYIRIKAN

Oleh :

AIDIA NURFITRA, S.Ag., M.A

 

Di dalam masyarakat Minang ada budaya yang apabila mendirikan pondasi rumah maka dilaksanakan penyembilan ayam yang darahnya diteteskan di seluruh wilayah yang akan dibangun rumah tersebut. Apabila bangunan rumah itu sudah pada tahap memasang kudo-kudo, maka ada lagi tradisi yaitu mendarahi kudo-kudo rumah. Bagaimanakah Islam melihat hal-hal itu?

Sebelum Islam datang, agama dan kepercayaan yang berkembang dan dianut masyarakat Indonesia dan Asia adalah Hindu. Setelah Islam datang, sisa sisa ajaran Hindu masih dipraktekkan dalam keseharian. Sebab masih tersisanya ajaran Hindu itu adalah karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat, selalu dipelihara, dan ada yang belum tersentuh sama sekali dalam dakwah.

Keyakinan ketuhanan masa lalu itu adalah mempercayai roh-roh halus dan dewa-dewa. Di setiap tempat ada penunggu atau dewanya. Karena ketakutan akan kehebatan dewa, atau terjauh dari gangguan dewa, maka dibuatlah sesajen-sesajen berupa makanan, buah-buahan, dan sembelihan. Persis seperti yang kita saksikan pada ritual agama di Bali sekarang ini.

Setiap hal-hal besar  yang mereka kerjakan, selalu ada sesembahan berupa sesajen untuk para dewa.    Seperti membangun rumah, membuat jembatan, membuat saluran air, menanam padi di sawah. Selalu ada bunga yang disemaikan, ada ayam yang disembelih, ada kepala kerbau yang ditanam di bawah gedung atau rumah yang akan dibangun.

Setelah Islam datang, dikenalkan ketauhidan, mengesakan Allah. Allah adalah satu-satunya kekuatan. Tiada Tuhan selain Allah. Tidak ada kekuatan yang dapat menolong kecuali Allah. Hal itu diikrarkan dalam kalimat syahadat tauhid yaitu Asyhadu alla ilaha illah, yang bermakna saya menyatakan, saya berjanji dan saya bersumpah bahwa tidak ada ilah selain Allah.

Maka itulah makna dari kalimat tauhid La Ilaha Illa Allah. Tidak ada yang disembah, tidak ada yang dicintai, tidak ada yang ditakuti, tidak ada yang diharapkan pertolongannya kecuali Allah. Apabila menganggap ada Tuhan lain selain Allah, ada kekuatan lain selain Allah, ada tempat meminta pertolongan selain Allah, maka itulah yang dinamakan dengan kesyirikan.

Terhadap keesaan Allah ini, Allah sendiri yang mengatakan bahwa : Sesungguhnya aku adalah Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Ku.(Q.S. Thaha : 14)

Ayat ini memberi arti bahwa tidak kekuatan lain yang berhak disembah, dan tidak ada satupun tempat tujuan beribadah kecuali hanya kepada Allah, dan ibadah penyembahan itu hanyalah berupa mendirikan shalat. Allah itu tidak butuh makan seperti makhluknya. Allah itu berbeda dengan makhluknya.

Islam datang sebagai pensuci atau pembersih dari segala kebodohan, dan kejahilan, dan memberi pelajaran melalui kitab Al-Quran. Sebagaimana Firman Allah : Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Q.S Al-Jumuah : 2)

Dalam hal ketuhanan, Al-Quran mengajarkan banyak hal tentang keesaan Allah. Allah melarang menjadikan makhluk lain sebagai Tuhan selain Allah. Dan mengambil Tuhan lain sebagai pelindung selain Allah adalah keyakinan yang lemah dan tidak berdasar. Sebagaimana Firman Allah : Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (Q.S. Al-‘Ankabut : 41)

Dalam ayat lain Allah berfirman : Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut." (Q.S. Al-Nahl : 51)

Di antara dalil yang paling tegas tentang ke Maha Esaan Allah adalah : Sesungguhnya aku adalah Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Ku. (Q.S. Thaha : 14). Dan banyak ayat-ayat lain yang menerangkan tentang keesaan Allah dan larangan untuk mengangkat Tuhan selain Allah.

Menganggap dan mengangkat Tuhan atau pelindung selain Allah adalah suatu kesyirikan. Kesyirikan itu adalah dosa besar yang tidak ada ampunannya oleh Allah.  Allah katakan : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Q.S. Al-Nisa’ : 48). Maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (Q.S. Al-Nisa’ : 116)

Dewa atau roh halus menurut pandangan Islam adalah para jin. Meminta tolong kepada Jin akan menjadikan kita selalu berbuat salah dan dosa.  Hal ini Allah ingatkan : Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.(Q.S Jin : 6). Memberikan sesajen, tumbal, dan penyembelihan adalah bentuk-bentuk mencari perlindungan kepada para jin.

Berdasarkan bentuk tradisi pra Islam yang masih ada ini, dan berdasarkan ayat-ayat sudah dipaparkan, maka jelaslah budaya penyembelihan ayam untuk batagak pondasi rumah, batagak kudo-kudo rumah adalah suatu kesyirikan yang harus dikikis dalam masyarakat Islam.

Budaya itu masih ada karena diperlihara secara turun temurun, dan sudah dibudayakan. Apa bila ada keinginan dari orang lain untuk memperbaikinya, maka jawaban mereka, bahwa hal ini sudah tradisi nenek moyang kami atau orang tuo-tuo dulu atau sebagai syarat untuk mendirikan rumah.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (Q.S. Al-Baqarah : 170). Ayat ini turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hanya mengikuti jejak nenek moyangnya.

Adapun alasan-alasan yang diberikan oleh masyarakat tentang pelaksanaan ritual-ritual itu sangat banyak. Pertama agar rumah yang akan dibangun dan akan didiami rumah yang aman dari pertikaian suami istri, anak-anak dan saudara. Tentu saja, walaupun tidak melakukan ritual, apabila antara suami istri, anak-anak dan anggota keluarga lainnya tahu bagaimana menghormati orang lain, mendirikan shalat di rumah itu dan mendengungkan bacaan Al-Quran maka seisi rumah akan hidup rukun.

Kedua, alasan mendarahi kudo-kudo rumah agar tukang dan para pekerja selamat dari musibah selama bekerja, seperti kayu yang akan menimpa, gergaji yang akan melukai dan agar tidak jatuh ketika memanjat. Solusinya, apabila tukang dan para pekerja itu hati-hati dalam bekerja tentu tidak akan ada musibah dalam bekerja.

Solusi untuk mengusir syetan dari dalam rumah, dari dalam diri adalah dengan meruqyah diri sendiri dengan banyak membaca Al-Quran. Jangan jadikan rumah kita sebagai kuburan yang sepi dari bacaan Al-Quran.

Dengan demikian, mari hindari meminta tolong kepada selain Allah adalah suatu kesyirikan dan merupakan dosa besar. Dan sembelihan hewan untuk mendarahi pondasi rumah dan kudo-kudo rumah adalah perbuatan syirik dan haram. Jangan wariskan lagi kesyirikan kepada anak keturunan kita sebagaimana orang-orang tua kita mewariskan hal itu kepada kita dan marilah minta ampulah kepada Allah atas ketidaktahuan kita. Wallahu a’lam.

TIGA AMALAN PENCUCI DOSA


TIGA AMALAN PENCUCI DOSA

Oleh :

AIDIA NURFITRA, S.Ag., M.A

Rasulullah bersabda : Setiap anak Adam adalah sering berbuat salah. Dan, sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat.? (H.R. Tirmidzi).  Itulah sebuah hadits yang memotifasi  setiap hamba Allah untuk selalu membersihkan dirinya dengan bertobat.  Hadits ini tidak mengizinkan manusia berdosa dosa, tetapi hanya mengatakan tentang kelemahan manusia yang mudah terjerumus berbuat dosa. Setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Sebaik-baik manusiapun pasti mempunyai kesalahan, walau hanya kesalahan kecil.

Allah tidak menghujat orang yang berbuat dosa, tetapi Allah memberi jalan keluar terhadap kesalahan-kesalahan yang manusia perbuat dengan menyuruh mereka bertaubat. Begitu banyak ayat-ayat yang menyuruh untuk bertobat dan begitu banyak ayat yang menyatakan bahwa Allah itu Maha Penerima Tobat. Diantaranya adalah :

-   Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. (Q.S Huud : 90)

-   Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, ......"(Q.S. At-Tahrim: 8)

 

Rasulullahpun menginginkan semua ummatnya untuk suci dari dosa. Rasulullahpun memberi solusi terhadap hal tersebut.  Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa ada 3 hal yang mengampunkan dosa, yaitu shalat lima waktu, Waktu antara Jumat dengan Jumat dan antara Ramadhan dengan Ramadhan.

Pertama, Shalat 5 waktu.

Shalat adalah penghapus dosa. Sebagaimana firman Allah :

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.  (Q.S. Huud : 114)

Maksud dari kebaikan dalam ayat ini adalah shalat. Ayat ini turun berhubungan dengan seorang laki-laki yang berbuat dosa karena mencium seorang perempuan yang bukan istrinya. Lalu dia mendatangi rasulullah dan menerangkan peristiwa itu. Maka Allah menurunkan ayat ini yang menerangkan bahwa kejahatan atau perbuatan dosa dapat diampuni dengan melakukan shalat lima waktu.

Apabila seorang muslim berdosa, dan ingin bahwa Allah menampuni dosanya maka dia harus melakukan shalat lima waktu. Mendirikan shalat lima  waktu adalah muthlak sebagai syarat taubatnya kepada Allah, yaitu taubat nashuha, taubat dengan sebenarnya.

Salah satu fungsi shalat bagi seorang mukmin adalah sebagai alat pencuci dari dosa-dosanya. Dalam sebuah hadits rasulullah katakan bahwa shalat itu bagaikan sungai yang mengalir jernih di depan rumah seseorang. Kalau orang itu mandi dalam sungai itu sebanyak lima kali sehari tentu tidak akan ada lagi daki di badannya. Ini berarti bahwa bila seorang muslim melakukan shalat lima waktu, maka shalat itu akan mensucikan dirinya dari noda dosa.

Seorang mukmin semakin suci dari dosa apabila shalat itu dilakukannya dengan berjamaah. Karena shalat berjamaah itu mempunyai kelebihan 27 kali lipat bila dibandingkan dengan shalat sendiri. Karena shalat berjamaah mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh shalat sendiri, yaitu ; 1) langkah-langkah kaki orang yang berjalan menuju mesjid untuk melaksanakan shalat berjamah, akan mengampunkan dosanya dan menaikkan derajatnya di hadapan Allah, 2) orang yang menanti waktu shalat dalam keadaan suci sambil duduk di mesjid, maka dia sudah dianggap melaksanakan shalat, 3) yang yang duduk di mesjid dalam keadaan suci, didoakan oleh para malaikat agar Allah mengampuni dosanya dan menyayanginya.

Dengan demikian, apabila hal ini kita lakukan setiap hari maka kita akan suci dari noda dosa.

Kedua, Waktu antara dua Jumat

Hari Jumat adalah hari raya yang nilainya lebih agung bila dibandingkan dengan Idul Fitri ataupun Idul Adha.  Rasulullah katakan bahwa penghulu sekalian hari adalah hari Jumat, dan ia merupakan hari terbesar di sisi Allah Ta’ala bahkan bagi-Nya Jumat itu lebih besar dari pada Idul Fitri ataupun Idul Adha..... (H.R Ibnu Majah dan Ahmad). Karena hari Jumat adalah hari Raya, maka seorang muslim harus merayakannya.

Cara merayakan hari raya Jumat, sama dengan cara merayakan Idul Fitri ataupun Idul Adha. Seorang muslim disunnatkan untuk mandi sepertri mandi junub, memotong kuku, memakai wangi-wangian, menggosok gigi dan memakai pakaian yang terbaik  apabila dia memilikinya sebelum pergi melaksanakan shalat.

Dalam kondisi bersih itu seorang muslim pergi ke shalat Jumat kemudian duduk dengan tidak   memisahkan orang yang telah duduk, mengerjakan shalat sunnat, mendengankan khatib berkhutbah dan shalat di belakang imam, maka diampuni dosanya antara Jumat dengan Jumat sebelumnya.

Rasulullah bersabda dari Abi Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Ahmad bahwa : Tidak ada seorangpun yang mandi pada hari Jumat dan bersuci dengan alat-alat kebersihan yang dimilikinya, kemudian ia berminyak dan bersisir serta memakai harum-haruman, lalu ia pergi ke mesjid tanpa memisahkan di antara dua orang yang telah duduk, kemudian mengerjakan shalat sunnat, serta mendengarklan khatib berkhutbah, melainkan akan diampuni dosa-dosanya antara Jumat itu dengan Jumat berikutnya. (H.R. Bukhari dan Ahmad).

Apabila seorang muslim melakukan hal ini setiap minggu maka dirinya akan suci dari dosa.

Pertanyaan akan timbul pada kelompok perempuan. Bagaimana cara kami untuk mendapatkan ampunan dengan hari Jumat, karena kami tidak pergi Jumat? Jawabannya gampang sekali. Pertama, Silahkan saja pergi shalat Jumat, karena tidak ada larang bagi perempuan untuk pergi shalat Jumat, sebagaimana tidak ada larangan untuk melaksanakan shalat Idul Fitri ataupun Idul Adha.  Carilah  mesjid yang agak longgar jemaahnya, yang memungkinkan perempuan hadir untuk melaksanakan shalat Jumat. Di Sumatera Barat, khususnya di Padang memang agak ganjil perempuan shalat Jumat, tetapi di beberapa mesjid di Jawa,  perempuan juga diberi fasilitas untuk melaksanakan shalat Jumat. Kedua, lakukanlah amalan-amalan sunnah yang menaikkan derjat di mata Allah seperti membaca surat Al-kahfi, melakukan shalat malam dan shalat Dhuha.

Ketiga, Ramadhan.

Ramadhan adalah bulan yang disediakan oleh Allah sebagai  waktu untuk meningkatkan kwalitas diri, dan waktu untuk mensucikan diri dari dosa. Sebagaimana kata Rasulullah : Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kamu berpuasa, di saat dibuka pintu-pintu sorga, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu setan-setan, serta dijumpi suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan. (H.R.  Ahmad, Nasai dan Baihaqy).

Dalam riwayat lain  rasulullah bersabda bahwa para malaikat berseru : Wahai para pencinta kebaikan berbahagialah, dan wahai pencinta kejahatan, berhentilah (H.R. Ahmad dan Baihaqy).

Kebahagiaan yang diserukan itu karena siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh iman dan perhitungan akan diampuni dosanya yang telah berlalu. Sebagaimana Sabda Rasulullah : Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanan dan penuh perhitungan, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu (H.R Ahmad dan Ashhabuss sunan).

Maksud dari ihtisaban (perhitungan) dalam hadits di atas ditafsirkan oleh hadit lain, sehingga maksudnya adalah mengetahui batas-batasnya, dan menjaga diri dari segala apa yang patut dijaga. (H.R Ahmad dan Baihaqy).   Mengetahui batas-batasnya adalah mengetahui apa yang harus dilakukan selama puasa dan mengetahui rukun dan syaratnya. Dan menjaga diri dari segala yang apa yang patut dijaga adalah menjaga diri dari hal-hal yang merusak pahala puasa dan hal-hal yang membatalkan pahala puasa.

Apabila seorang muslim melakukan puasa dengan penuh keimanan dan penuh perhitungan, sehingga diampuni dosanya yang telah berlalu, dan hal itu dilakukannya setiap tahun, maka seorang muslim akan suci dari dosa seumur hidupnya.

Namun kita jangan berbangga hati dulu, bahwa dosa yang diampuni dengan shalat, hari raya Jumat dan dengan puasa Ramadhan hanyalah dosa-dosa kecil. Sedangkan dosa-dosa besar hanya hapus dengan taubat nasuha, tobat dengan sebenarnya. Tobat dengan berjanji tidak akan berbuat lagi dan ada peningkatan kwalitas iman dan ibadah setelahnya.

Wallahu a’lam.

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 08 November 2011

PRINSIP DASAR METODIK PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN DAN PENDIDIKAN ISLAM

PRINSIP DASAR METODIK PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN
DAN PENDIDIKAN ISLAM
Oleh : Aidia Nurfitra, S.Ag, M.A
(Guru MAN 1 Padang, Alumni Sps UIN Jakarta dan Alumni Saka Bhayangkara Polda Sumbar)

A.      Pendahuluan

Bulan Agustus adalah bulan yang sangat sibuk dan menyenangkan bagi pramuka. Karena pada bulan itu, tepatnya tanggal 14 Agustus mereka memperingati hari lahirnya gerakan pramuka dan mereka akan mengisinya dengan perlombaan kepramukaan dan kegiatan kegiatan menarik lainnya.
Gerakan Pramuka Indonesia adalah  pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan yang dilaksanakan di Indonesia. Kata "Pramuka" merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti rakyat Muda yang Suka Berkarya.
"Pramuka" merupakan sebutan bagi anggota gerakan pramuka, yang meliputi; Pramuka Siaga, Pramuka Penggalang, Pramuka Penegak dan Pramuka Penegak. Kelompok anggota yang lain yaitu pembina Pramuka, Andalan Pramuka, Korp Pelatih Pramuka , Pamong saka Pramuka, Staf Kwartir dan Majelis pembimbing Pramuka.
Sedangkan yang dimaksud "Kepramukaan" adalah proses pendidikan di luar lingkungan Sekolah dan di luar lingkungan Keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur. Kepramukaan adalah sistem pendidikan kepanduan yang disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan masyarakat dan Indonesia.
Sebagai suatu oraganisiasi pendidikan tentu saja Gerakan Pramuka mempunyai landasan dsan arahan pendidikan. Semua landasan dan prinsip pendidikan itu termuat dalam apa yang disebut dengan PDMPK, yaitu Prinsip Dasar metodik pendidikan Kepramukaan. Boleh dikatakan PDMPK adalah sebuah Kitaq Standar yang harus dijadikan acuan dalam pendidikan kepramukaan.
Sebagai sebuah organisasi yang berada di Indonesia, Gerakan Pramuka berlandasan Pancasila. Sedangkan sila pertama pancasila adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Maka Gerakan Pramuka tidak bisa dilepaskan dari pengaruh agama yang ada di Indonesia. Maka dalam hal ini, penulis mencoba melihat PDMPK ini dari sudut pendidikan Islam.

B.       Pembahasan
1.    Prinsip Dasar Metodik Pendidikan Kepramukaan
a.    Prinsip Kesukarelaan
Dalam kamus bahasa Indonesia, sukarela berarti dengan kemauan sendiri atau atas kehendaki sendiri. Dengan demikian, prinsip kesukarelaan adalah prinsip yang mengajarkan para pramuka untuk berbuat tanpa pramrih dan tulus, karena kehendak dan kemauan sendiri. Sifat kesukarelaan ini dilandaskan pada sifat ketulusan hati, tanpa pamrih (ikhlas), mengutamakan kewajiban dari pada hak, serta mengabdi dengan penuh tanggung jawab.
Prinsip ini bertujuan agar para Pramuka menjadi pengabdi masyarakat yang tulus hati, tanpa pamrih, bertanggung jawab dan mengerti mana yang kewajiban dan mana yang hak.
Suka rela, dikenal dalam Islam dengan arti Iklas. Iklas merupakan salah satu dari berbagai amal hati. Dan bahkan iklas berada di barisan paling depan dari amal-amal hati.  Sebab diterimanya berbagai amal tidak bisa menjadi sempurna  kecuali dengan ikhlas.
Maksud ikhlas di sini adalah menghendaki keridhaan Allah dengan suatu amal, membersihkannya dari segala noda individu maupun duniawi. Landasan amal yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah. Ikhlas adalah merupakan buah dari tauhid yang sempurna kepada Allah.Yaitu mengesakan ibadah dan istianah (memohon pertolongan) kepada Allah.

b.    Prinsip Kode Kehormatan
Kode kehormatan Gerakan Pramuka adalah norma dalam kehidupan dan penghidupan para anggota Pramuka yang merupakan tolak ukur dan standar tingkah laku seorang Pramuka Indonesia. Kode kehormatan ini dijadikan pegangan hidup setiap anggota gerakan Pramuka. Kode kehormatan terdiri dari janji atau satya dan ketentuan-ketentuan moral atau dharma. Dalam prinsip Kode Kehormatan ini kita hanya membahas satya penegak.
Adapun dalam Satya ada 3 (tiga) janji yang disebut dengan Tri Satya, yaitu :
-          Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara kesatuan Republik Indonesia, dan mengamalkan Pancasila.
-          Menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat.
-          Menepati Dasa Darma.
Adapun Darma ada 10 macam yang disebut dengan dasa darma, yaitu :
-          Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa
-          Cinta Alam dan kasih saying kepasa sesama manusia
-          Patriot yang sopan dan kesatria
-          Patuh dan suka bermusyawarah
-          Rela menolong dan tabah
-          Rajin terampil dan gembira
-          Hemat cermat dan bersahaja
-          Disiplin berani dan setia
-          Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
-          Suci dalam pikiran dan perbuatan
Dalam pendidikan akhlak Islam, yang pertama ditanamkan kepada peserta didik adalah rasa takut kepada Allah. Setelah pendidikan untuk takut kepada Allah ini berhasil maka akan lahir sifat-sifat terpuji sebagai buah dari ketaqwaan mereka kepada Allah.
Sebagaimana kata Rasulullah
“Ajarkanlah mereka untuk taat kepada Allah dan takut kepada berbuat maksiat kepada Allah serta suruhlah anak-anakmu untuk mentaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Karena hal itu akan menjauhkan mereka dan kamu dari api neraka”
Moral, sikap dan tabiat adalah salah satu buah dari iman. Jika semenjak kecil, anak-anak tumbuh dan berkembang dengan berpijak pada landasan iman kepada Allah, terdidik untuk selalu takut kepada Allah, dan meminta pertolongan serta berserah diri kepada Allah, maka ia akan memiliki akhlak yang mulia.

c.    Prinsip Sistim Tanda Kecakapan
Tanda kecakapan diberikan setelah yang bersangkutan berusaha memperolehnya dengan minta diuji secara swakarsa dan swadaya, yang diatur sedemikian rupa oleh Pembina.
Dalam Kepramukaan ada dua tanda kecakapan : Tanda Kecakapan Umum (TKU) dan Tanda Kecakapan Khusus (TKK). Tujuan diadakannya tanda kecakapan ini ialah disamping untuk merangsang peserta didik untuk lebih giat latihan dan belajar, juga sebagai penghargaan atas telah berhasilnya menempuh segala ujian dan berhasilnya dalam latihan. Penghargaan semacam ini sangatlah penting. Sebab setiap peserta didik merasa bahwa hasil karyanya dihargai, maka sebagai dorongan untuk lebih memajukan berkarya, sistim penghargaan inilah dipakai dalam kepramukaan.
Rasulullah berkata : Artinya : Muliakanlah anak-anakmu dan didiklah mereka dengan akhlak yang baik (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas).
Salah cara untuk memuliakan anak atau peserta didik adalah dengan memberi penghargaan terhadap hasil kerja mereka.
Islam sangat memperhatikan pendidikan kecakapan. Rasul berkata : orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai oleh Allah dari pada orang mukmin  yang lemah (H.R Muslim)
Agar seorang mukmin itu kuat dan memiliki ketangkasan atau kecakapan, rasulullah menyerukan untuk belajar renang, memanah, dan menunggang kuda. Rasulullah berkata : Segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan zikir nama-nama Allah, maka itulah senda gurau belaka, kecuali empat perkara : seseorang berjalan antara dua tujuan (untuk memanah), latihan menunggang kuda, bermain dengan keluarganya dan belajar berenang (H.R Atthabari)
Salah satu metode untuk memotivasi dan menguatkan sikap seseorang adalah dengan memberi hadiah. Studi eksperimen sangat menguatkan  pentingnya memberi motivasi yang dapat melahirkan respon positif dengan memberi hadiah. Rasulullah menguraikan pentingnya pemberian hadiah atau upah untuk memotivasi seseorang agar berperilaku baik. Rasulullah katakan : berilah upah kepada seorang pekerja sebelum keringatnya  kering".  
Pemberian hadiah atau imbalan yang diperuntukan kepada anak-anak pernah dilakukan rasulullah SAW ketika beliau mengikuti suatu perlombaan. Ini terbukti ketika rasulullah mengatakan pada anak-anak : "Siapa saja yang memenangkan ini maka ia berhak sesuati dariku". Merekapun  kemudian berlomba-lomba untuk meraih sesuatu yang dijanjikan rasulullah.

d.   Sistim Beregu
Sistim beregu adalah sistim pendidikan kepramukaan yang membagi peserta didik kedalam satuan-satuan kecil yang terdiri dari 7-10 orang yang disebut barung (Siaga), regu (Penggalang) ,sangga (Penegak), dan reka (Pandega). Dan kumpulan dari satuan-satuan kecil ini disebut perindukan (Siaga), pasukan (Penggalang), ambalan (Penegak), dan racana pandega (Pandega).
Tujuan sistim beregu ialah : Mengembangkan dan membina moral Pancasila, tanggung jawab, kemampuan berkelompok, demokrasi, mendidik supaya berlaku, percaya pada diri sendiri, menghormati orang lain, kegotongroyongan dan kerukunan, sikap hidup dalam masyarakat, kepemimpinan.
Dalam pendidikan Islam dikenal suatu bentuk pendidikan yang disebut halaqah. Halaqah adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan atau pengajaran Islam (tarbiyah Islamiyah). Istilah halaqah (lingkaran) biasanya digunakan untuk menggambarkan sekelompok kecil muslim yang secara rutin mengkaji ajaran Islam. Jumlah peserta dalam kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam dengan minhaj (kurikulum) tertentu. Di beberapa kalangan, halaqah disebut juga dengan mentoring, ta’lim, pengajian kelompok, tarbiyah atau sebutan lainnya.
Biasanya peserta halaqah dipimpin dan dibimbing oleh seorang murobbi (pembina). Murobbi disebut juga dengan mentor, pembina, ustadz (guru), mas’ul (penanggung jawab). Murobbi bekerjasama dengan peserta halaqah untuk mencapai tujuan halaqah, yaitu terbentuknya muslim yang Islami dan berkarakter da’i (takwinul syakhsiyah islamiyah wa da’iyah). Dalam mencapai tujuan tersebut, murobbi berusaha agar peserta hadir secara rutin dalam pertemuan halaqah tanpa merasa jemu dan bosan. Kehadiran peserta secara rutin penting artinya dalam menjaga kekompakkan halaqah agar tetap produktif untuk mencapai tujuannya.
Apabila dibandingkan antara sistim beregu ini sama dengan sistim halaqah dalam pendidikan Islam. Yang membedakannya adalah materi dan tempat penyelenggaraan pendidikan itu.

e.    Prinsip Satuan Terpisah  
Sistim satuan terpisah ialah  memisahkan antara satuan Pramuka putri dengan satuan Pramuka putra, dan satuan putra dibina oleh pembina putra, dan satuan putri dibina oleh pembina putri. Kecuali Siaga putra dapat dibina oleh Pembina putri, dan Siaga putri dapat dibina oleh pembina putra.
Jadi gugus depan putra terpisah dengan gugus depan putri, dan biasanya dengan nomor yang berurutan. Angka ganjil untuk putra dana angka genap untuk putri.
Tujuan dari diterapkannya sistim ini adalah agar proses pendidikan Kepramukaan untuk masing-masing jenis, dapat lebih intensif dan efektif.
Mencampurkan antara satuan putra dengan satuan putri dalam  bahasa agama adalah ikhtilat. Dan sistim satuan terpisah ini sangat sesuai dengan ajaran Islam.
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim menyatakan dalam Fatawa dan Rasa`ilnya bahwa ikhtilath antara laki-laki dengan perempuan ada tiga keadaan.  Pertama: Ikhtilath para wanita dengan laki-laki dari kalangan mahram mereka, maka ini jelas dibolehkan.
Kedua: Ikhtilath para wanita dengan laki-laki ajnabi (non mahram) untuk tujuan yang rusak, maka hal ini jelas keharamannya.
Ketiga: Ikhtilath para wanita dengan laki-laki ajnabi (non mahram) di tempat pengajaran ilmu, di toko, kantor, rumah sakit, perayaan-perayaan dan semisalnya. Ikhtilath yang seperti ini terkadang disangka tidak akan mengantarkan kepada fitnah di antara lawan jenis, padahal hakikatnya justru sebaliknya. Sehingga bahaya ikhtilath semacam ini perlu diterangkan dengan membawakan dalil-dalil pelarangannya.
Allah menciptakan laki-laki dalam keadaan punya kecenderungan yang kuat terhadap wanita. Demikian pula sebaliknya, wanita punya kecenderungan kepada lelaki. Bila terjadi ikhtilath tentunya akan menimbulkan dampak yang negatif dan mengantarkan kepada kejelekan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan di dalam dada.' (Ghafir: 19)
Ibnu Abbas berkata bahwa ayat ini terkait dengan seorang lelaki yang duduk bersama suatu kaum. Lalu lewatlah seorang wanita. Ia pun mencuri pandang kepada si wanita. Ibnu Abbas berkata pula "lelaki itu mencuri pandang kepada si wanita. Namun bila teman-temannya melihat dirinya, ia menundukkan pandangannya. Bila ia melihat mereka tidak memerhatikannya (lengah), ia pun memandang si wanita dengan sembunyi-sembunyi. Bila teman-temannya melihatnya lagi, ia kembali menundukkan pandangannya. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala mengetahui keinginannya dirinya. Ia ingin andai dapat melihat aurat si wanita.
Allah mensifatkan mata yang mencuri pandang kepada wanita yang tidak halal untuk dipandang sebagai mata yang khianat. Apalagi dengan berikhtilat. Bila memandang saja dicap berkhianat sebagai suatu cap yang jelek, apalagi berbaur dan saling bersentuhan dengan wanita ajnabiyah.

f.     Prinsip Persesuaian dengan Perkembangan Jasmani dan Rohani
Maksud dari prinsip ini adalah agar proses pendidikan Kepramukaan dapat mengenai sasaran dengan tepat pada tiap-tiap golongan umur Pramuka. Untuk itulah maka, Pramuka digolongkan, berdasarkan usia:
-          Siaga : anak usia 7-10 tahun. Anak seumur ini pikirannya masih terpusat kepada induk semangnya. Maka cara mendidiknya pun harus memakai cara keluarga. Penuh kasih sayang, gembira ria, kelincahan dan sebagainya. Hal ini bisa dilihat dari bentuk barisan upacara pembukaan latihan, yang menggambarkan pendidikan mereka masih pematangan pendidikan keluarga.
-          Penggalang : anak umur 11-15 tahun. Anak umur ini sudah menginjak remaja, dan mulai mengenal masyarakat lingkungan. Cara mendidiknya tentu dengan cara yang dapat mengena pada masa perkembangan usia ini.
-          Penegak : pemuda umur 16-20 tahun. Pemuda seumur ini sudah dapat berfikir kritis, logis, dan realistis. Sudah mengerti corak kehidupan masyarakat. Anak pemuda usia ini sudah berani dan dapat mengambil tindakan sendiri.
-          Pandega : pemuda dewasa umur 21-25 tahun. Pemuda se-usia ini sudah harus terjun membina masyarakat, dan bergaul dalam kehidupan masyarakat luas.
g.    Prinsip Kegiatan Menarik yang mengandung Pendidikan.
Kegiatan menarik yang mengandung pendidikan dalam Kepramukaan dibagi kepada tujuan jasmaniah yaitu untuk perkembangan tubuh, kesehatan dan sebagainya, dan tujuan rohaniah untuk perkembangan jiwa, watak dan kepribadian.
Kegiatan menarik yang mengandung pendidikan ini dipilih dan diatur sedemikian rupa, sehingga mendorong peserta didik turut aktif mengikuti kegiatan, memecahkan masalah dan aktif mengembangkan jiwanya.
Kegiatan menarik yang mengandung pendidikan itu Pramuka akan memperoleh tambahan imajinasi dan daya cipta, kesadaran akan kemampuan dirinya, rasa percaya pada diri sendiri, rasa tanggung jawab, semangat gotong-royong dan toleransi.
Sebagaimana yang sudah dibahas pada bagian sebelumnya, rasulullah sangat menganjurkan ketangkasan memanah, latihan menunggang kuda, bermain dengan keluarganya dan belajar berenang. Karena semua itu menarik dan mengandung pendidikan.

h.    Prinsip Keprasahajaan Hidup.
Kata keprasahajaan berasal dari kata sahaja yang berasal dari bahasa Arab "sazâjah" yang berarti sederhana. Keprasahajaan hidup adalah sederhana dan wajar.
Karena keprasahajaan adalah  prinsip pendidikan kepramukaan maka Pramuka harus belajar hidup sederhana dan wajar dengan cara pakaian seragam yang sama, susah bersama, senang bersama (senasib sepenangungan), menggunakan apa yang ada dengan wajar, hidup sederhana di alam terbuka, membina kerukunan dan gotong-royong dan latihan hidup sederhana dalam perkemahan.
Rasulullah adalah teladan bagi setiap orang Islam. Orang yang mengaku umat rasulullah haruslah menjadikan beliau sebagai teladan. Pribadi rasulullah adalah pribadi yang sederhana dalam segala hal, terutama dalam sandang, pangan dan papan.
Pakaian sederhana adalah pakaian yang tidak digunakan untuk kesombongan. Dan rasulullah sangat melarang menggunakan pakaian yang berlebihan karena kesombongan. Rasulullah berkata : "Siapa yang memakai pakaian kesombongan di dunia, maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan di akhirat (H.R Ahmad, Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah)
Walaupun demikian rasulullah menganjurkan menggunakan pakaian yang bersih dan bagus  untuk memperlihatkan  bekas-bekas nikmat Allah dan kemuliaan dariNya. Rasulullah berkata : "Apabila Allah telah memberimu harta maka perlihatkanlah bekas dari nikmat dan kemulyaan-Nya kepadamu. (H.R Abu Daud)
Sebagai perwujudan rasa senasib dan sepenanggungan maka orang yang mempunyai kelebihan harta harus mengeluarkan zakatnya kepada yaang berhak menerimanya.

i.      Prinsip Swadaya
Prinsip Swadaya dalam Kepramukaan adalah : bahwa semua kegiatan harus dilaksanakan dengan usaha dan daya upaya sendiri (berdikari) untuk tidak menggantungkan diri pada orang lain.
Dalam hal ini Pramuka harus belajar menghadapi masalah dengan baik dan demokratis, memecahkan persoalan dengan teliti, berusaha keras untuk mencapai keberhasilan, bertanya kepada yang lebih mengerti, bila tak mampu menghadapi masalah tersebut.
Rasulullah adalah orang yang sudah hidup mandiri semenjak kecil. Beliau lahir dalam keadaan yatim dan menjadi yatim piatu pada umur 6 tahun. Dan selanjutnya beliau diasuh oleh kakek dan pamannya. Setelah agak besar beliau bekerja sebagai penggembala ternak. Hal ini menggambarkan bahwa rasulullah adalah pribadi yang berswadaya.
Rasulullah tidak suka kepada peminta-minta yang suka mengharapkan bantuan sedangkan dia masih bisa melakukan usaha untuk mencukupi kebutuhannya. Ada riwayat bahwa rasulluh memberi sebuah kampak kepada seorang peminta-minta, sebagai pendidikan agar dia bisa berswadaya.

j.      Sistim Among
Sistim Among berarti : mengasuh, memelihara, menjaga dan merawat. Orang yang melaksanakan among disebut Pamong. Dalam Kepramukaan Pembinalah yang disebut Pamong .
Pembina adalah pengasuh, pemelihara, penjaga dan perawat yang merupakan pengganti orang tua di rumah. Maka dalam hal ini Pembina harus bertindak bijaksana (adil), memberi teladan yang baik, rasa cinta kasih, disiplin dan tanggung jawab. Atau lebih populernya ialah dengan ajaran Ki Hajar Dewantoro yaitu :
·         Ing ngarsa sung tulodho : di depan jadi teladan.
·         Ing madya mangun karso : di tengah menggugah kemauan
·         Tut wuri handayani : Dari belakang memberi dorongan

Yang pertama kali harus diajarkan oleh pembina sebagai orang tua orang tua adalah pengenalan terhadap Allah (ma’rifatullah) dan menanamkan kecintaan terhadapnya. Rasulullah berkata : “Ajarkanlah mereka untuk taat kepada Allah dan takut kepada berbuat maksiat kepada Allah serta suruhlah anak-anakmu untuk mentaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Karena hal itu akan menjauhkan mereka dan kamu dari api neraka”
Dan Rasulullah juga mengajarkan untuk memuliakan mereka dan mendidik mereka dengan baik. Rasulullah katakan : "Muliaknalah anak-anakmu dan didiklah mereka dengan akhlak yang baik". (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas). Dan Rasulullah juga berkata : "Ajarkanlah kepada anak-anakmu kebaikan dan didiklah mereka dengan akhlak yang mulia". (HR. Abdu Razak)

Kesembilan PDMPK tersebut harus diterapkan secara keseluruhan, bila sebagian prinsip tersebut dihilangkan, maka organisasi itu bukan lagi Gerakan Kepramukaan.


DAFTAR PUSTAKA

-      Ulwan, Abdullah Nashih, Pendidikan Anak Dalam Islam, Jakarta : Pustaka Amani, 1995.
-      Nawawi, Imam, Riyadhus Shalihin, Jakarta : Pustaka Amani, 1999.
-      Al-Qardawi, Yusuf, Niat dan Ikhlas, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 1999.
-      Ahmad, Hidayatullah, Ensiklopedi Pendidikan Anak Muslim, Jakarta : Fikri, 2007.
-      Najati, Muhammad Utsman, Psikologi Dalam Perspektif Hadis, Jakarta : Pustaka Al-Husna Baru, 2004

Minggu, 05 September 2010

PENDEKATAN KOGNITIF DAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

PENDEKATAN KOGNITIF DAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Olehn : Aidia Nurfitra, M.A
Magister UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Guru MAN 1 Padang

PENDEKATAN KOGNITIF DAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF
ِِِِِA. Pendahuluan
Maksud dari judul penulis cantumkan diatas adalah dua pola pendekatan pada desain silabus bahasa. Pendekatan kognitif (المدخل المعرفي) adalah pendekatan pola desain silabus dengan karangka bangun (landasan) teori transformasi generatif; yakni cara pandang (struktur bahasa) secara lebih komprehensif, sebagai kelanjutan dan inovasi pembelajaran bahasa agar lebih mempunyai dasar teori. Sedangkan pendekatan komunikatif (المدخل الاتصالي) adalah pendekatan dengan karangka bangun (landasan) teori fungsi komunikatif bahasa (sosiolinguistik), sebagai kritik lanjut terhadap pendekatan kognitif yang terkristal dalam sebuah pendekatan dan metode pembelajaran yang lebih aplikatif.[1] Pertimbangan bangunan teori pendekatan kognitif adalah pentingnya wawasan tentang keberagaman persoalan kegramati-kalan (grammaticality) yang dipandang sebagai satu kesatuan untuk memahami makna bahasa yang dimaksud dalam sebuah ungkapan. Sedangkan bangunan pendekatan komunikatif lebih mengorientasikan kecocokan (appropriateness), kontes sosiokultural atau kecocokan kontekstual (contextual appopriacy). Dengan kata lain, bahasa lebih tepat dilihat sebagai suatu yang berkenaan dengan apa yang dapat dilakukan dengan bahasa, atau makna apa yang dapat diungkapkan melalui bahasa, bukan dilihat dari setiap unsur bahasanya.
Apabila dihubungkan dengan kurikulum pembelajaran bahasa di Indonesia pada tingkat SMU/MA; maka standar isi yang ditetapkan Departemen Agama untuk pembelajaran bahasa Arab adalah berada pada livel pendekatan Kognitif, karena dipandang sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa sebagai sarana untuk memahami teks-teks berbahasa Arab dan keberterimaan Indonesia sendiri. Sedangkan untuk potret aplikasi yang ditawarkan Dinas Pendidikan dan Departemen Agama pada matapelajaran bahasa Indonesia, Inggris dan bahasa Asing lainnya adalah pembelajaran bahasa dengan orientasi komunikatif.[2]
B. Pembahasan
1. Pendekatan Kognitif
a. Latar Belakang
Latar belakang munculnya pendekatan kognitif (المدخل المعرفي) ini, adalah evaluasi terhadap pembelajaran bahasa asing dengan menggunakan metode السمعية الشفوية, dengan pendekatan aural-oral yang didasarkan atas teori linguistik strukturalis/deskriptif dan ilmu jiwa behaviorisme/taksonamik. Sedangkan konsep (المدخل المعرفي) ini mencoba menawarkan landasan linguistik transformasi-generatif (النظرية التحويلية الابتكارية), landasan psikologi kognitisme (النظرية المعرفية) dengan teori LAD (Language Acquisition Device) psiko-linguistik.[3] Dan menawarkan karangka bangunan yang lebih komprehensif. Sehingga bahasa asing dipelajari secara utuh sabagai satu kesatuan.
Konsep pendekatan dan metode ini dirasakan para pengajarar bahasa lebih jelas, setelah penerbitan artikel-artikel JB. Carroll di majalah ’Modern Language Jurnal’ (MLJ); yang mengulas tentang ilmu jiwa belajar dan hubungannya dengan pembelajaran bahasa asing, serta buku S. Kaldmann ’Trends in Language Teaching’ yang lebih mengoprasinalkan konsep JB. Carroll itu.[4]
Namun walau bagaimanapun, sebenarnya konsep silabus yang ditawarkan pendekatan ini, tetap ditekankan pada persoalan kegramatikalan (grammaticality). Sebagaimana yang telah dikenal oleh pendekatan klasik, hanya saja pembelajaran diorientasikan untuk penguasaan seluruh keterampilan bahasa dan lingkup kontaks bahasa dan nilai pragmtis bahasa serta didasarkan pada suatu asumsi yang mempunyai landasan teori. oleh karena itu, diantara para ahli pembelajaran bahasa menyebutnya sebagai modifikasi metode القواعد والترجمة.[5]
b. Asumsi Pembelajaran Bahasa
Dalam hal asumsi, bahasa dilihat sebagai sebuah bentuk bangunan yang utuh dan terdiri dari satuan-satuan kaidah, yang masing-masing memiliki bagian-bagian yang kompleks, pembelajaran harus bermakna, Dan pengetahuan yang sadar tentang tata bahasa adalah penting.[6] Dalam hal ini, sebuah kalimat dipandang sebagai kolaborasi hubungan satuan-satuan kaidah yang tak terpisahkan; jadi kalimat adalah pikiran dan kalimat juga berarti makna, oleh karena itu tokoh yang memainkan peran dalam pendekatan ini disebut aliran ini البنوي في وصف اللغة.[7]
Sedangkan dalam konsep pembelajaran bahasa; bahasa dipelajari sebagai satu bangunan makna, yang mengandung unsur ekternal (struktur luar) dan internal (struktur dalam); struktur luar adalah bentuk ujaran/tulisan, dan struktur dalam adalah konteks bahasa (السياق اللغوي). Pembelajaran bahasa diarahkan pada hubungan yang ada pada masing-masing unsur; fonologi, leksekologi dan gramatikalnya, bahasa dipandang secara universal; yakni terdapat persamaan di setiap bahasa yang digunakan manusia, sebagaimana adanya persamaan antara bahasa Indonesia dan Arab disamping berbedaan-perbedaan pada aspek tertentu.
c. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah memiliki kompetensi (competence) berbahasa secara komprehensif sehingga seseorang (siswa) dapat ’memberlakukan’ (performance) kompetensi itu dalam ungkapan ujaran atau pemehaman teks, baik itu melingkupi cabang-cabang ilmu bahasa (Qawaid, Terjemah, Ta’bir, dan sebagainya), unsur bahasa (Aswat, Mufradat dan Tarakib), atau kemampuan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis), yang berisi ungkapan-ungkapan bahasa yang beraneka ragam, dengan landasan gramatikal yang
Jadi bentuk pragmatis yang paling konkrit dari pendekatan kognitif adalah kepemilikan kompetensi membaca dan memahami teks berbahasa Arab pada livel tertentu, sesuai dengan batasan satuan pendidikan siswa. Dengan demikian disengaja atau tidak, terdapat kecocokan dengan tujuan yang tujuan pengajaran bahasa Arab di Indonesia pada kurikulum 2006 (KTSP) yang ditetapkan dalam Standar Isi oleh Departemen Agama sebagaimana disebutkan:
Perogram pembejaran bahasa Arab secara umum memiliki tujuan agar peserta didik berkembang dalam hal;
1. Kemampuan mendengarkan, berbicara , membaca dan menulis secara baik ;
2. Berbicara secara sederhana tapi efektif dalam berbagi konteks untuk menyampaikan informasi, pikiran dan perasaan , serta menjalin hubungan sosial dalam bentuk kegiatan yang beragam, interaktif dan menyenangkan;
3. Menafsirkan isi berbagai bentuk teks tulis pendek sederhana dan merespon dalam bentuk kegiatan yang beragam, interaktif dan menyenangkan;
4. Menulis kreatif, meskipun pendek sederhana dalam berbagai bentuk teks untuk menyampaikan informasi mengungkapkan pikiran dan perasaan;
5. Menghayati dan menghargai karya sastra;
6. Kemampuan untuk berdiskusi dan menganalisa teks secara kritis;
7. Perbendaharaan kata Arab fusha sebanyak 750 kosakata pada jenjang Aliyah, dengan jumlah keseluruhan dari jenjang Ibtidaiyah sebanyak 1500 kosa kata;
8. Dengan penguasaan kosakata dengan kaidah dan pelafalan yang benar sebagaimana tersebut di atas, peserta didik diharapkan mampu berbahasa Arab secara reseftif maupun ekpresif.[8]
d. Metode dan Teknik Pembelajaran
Jack C Richards and Theodore S. Rodgers menawarkan الطريقة الصامتة (metode Guru diam/The Silent Way), طريقة الاستجابة الجسدية الكاملة / الطريقة التفاؤلية (Respon Psikomotorik secara menyeluruh/Total Physical Respon), dan التعليم الإرشادي, sebagai bentuk tindak lanjut pendekatan silabus ini pada tataran aplikatifnya. Namun, penulis berpandangan justru ini merupakan bentuk baru metode pembelajaran bahasa yang dimunculkan akibat ketidak jelasan dari konsep المدخل المعرفي pada tataran metode dan teknik sebagaimana konsep yang diperkenalkan Chomsky.[9]
Di sisi lain, Bambang Kaswanti Porwo melihat dalam sudut pandang pendekatan materi – menurut dia, jenis aplikasi (metode) pendekatan ini dapat dibagi kedalam dua kelompok; yakni:
1. kelompok dengan pendekatan penguraian tata bahasa terlebih dahulu, baru struktur bahasa ditampilkan (pendekatan deduktif / قياسية), yang aplikasinya akan berupa: Grammer Translation Method (طريقة القواعدوالترجمة )
2. kelompok dengan pendekatan pembelajaran materi-materi bacaan terlebih dahulu, baru siswa diarahkan untuk menyimpulkan unsur gramatikal yang ada di dalam materi tersebut, maka dalam aplikasinya akan berbentuk Direct Method (طريقة المباشرة), atau Audio Lungual Method (السمعية الشفوية).[10] Dengan menanggalkan sebagian ciri khas kedua metode itu, yakni pembolehan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan mengurangi alokasi drill.
Sedangkan Dr. Shalah Abdul Majid al’Araby mnyebutkan jenis metode khusus untuk pendekatan kognitif ini yakni metode Cognitif Code Learning (طريقة الفهم وحل الرموز اللغوية).[11] Namun menurut Thu’aimah ini merupakan nama lain dari pendekatan tersebut bukan jenis metode tertentu.
Adapun penulis memposisikan pandangan pada kesesuaian satuan teknik yang diterapkan suatu metode dengan asumsi pembelajaran bahasa dan teori yang mendasari pendekatan kognitif ini, dengan demikian walaupun ada metode dasar (seperti metode Cognitif Code Learning, metode Grammer Translation dan lain-lain) yang sering dipasangkan para ahli pengajaran bahasa asing sebagai bentuk aplikatif pendekatan ini, namun itu bukanlah batasan. Jadi pendekatan ini dapat diaplikasikan dalam jenis semua metode, asalkan dalam tekniknya memuat asumsi bahasa dan pengajarannya yang sesuai dengan teori generatif transformatif dan cakupannya serta teori kognitifisme.
Pernyataan penulis ini didasarkan pada penegasan Bapak Prof. Dr. Aziz Fachrurrozi pada perkuliahan Metodologi Pengajaran Bahasa Arab (Kamis, tanggal 24 Mei 2007), yang mengatakan:
”Dalam penerapan suatu pendekatan pengajaran bahasa – termasuk Kognitif dan Komunikatif – tidak terikat pada jenis metode tertentu. Namun lebih didasarkan pada kesesuain teknik metode itu dengan asumsi bahasa sebuah pendekatan. Pendekatan kognitif dapat diaplikasikan dalam metode القواعد والترجمة، المباشرة، القراءة dan lain sebagainya”.
Pernyataan penulis di atas juga merupakan bentuk generalisasi dari pernyataan Prof. Mackey yang menyebutkan kecocokan 15 jenis metode pengajaran (semua jenis metode pembelajaran bahasa Asing yang sering disebutkan para ahli bahasa) bahasa asing dengan pendekatan Aural-Oral Approach disamping Audio-Lingual dengan syarat disertai dengan pola dasar mim-mem dan pettern practice (latihan pola) yang merupakan pola dasar pengembangan asumsi pendekatan aural-oral approach dalam teknik pengajaran ke-15 metode itu.[12]
e. Silabus Pembelajaran Bahasa
Prinsip karangka silabus dibangun dengan pola pikir:
1. Materi silabus diformulasikan untuk tujuan pencapaian keempat keterampilan berbahasa, dengan mengedepankan keterampilan membaca dan menulis dari menyimak dan bercakap; namun tujuan akhir dari pembelajaran bahasa asing (disini) adalah kemampuan untuk menerapkan kaidah gramatikal);
2. Unsur-unsur internal bahan bacaan (nizham Shautiy, Nahwiy, Sharfiy) lebih diberikan penekanan dibandingkan dengan siyaq.
3. Materi dibagi dalam tiga gradasi:
a. Pemahaman kaidah dengan metode istinbathiah sebagai langkah awal;
b. Studi diantara teks-teks bacaan dengan ditambah media menyimak (atau dari guru sendiri) sebagai pelengkap, untuk tingkat menengah;
c. latihan bentuk-bentuk penggunaan bahasa dalam berbagai lapangan dan konteks untuk mustawa mutaqaddimah.
4. Keterampilan berbicara/bercakap hanya dianggap sebagai keteram-pilan pendukung; dengan demikian, tidak dimasukkan materi khusus tentang hiwar.[13]
Berdasarkan prinsip karangka silabus di atas, maka ruang lingkup materi pembelajaran bahasa Arab pendekatan kognitif ini meliputi:
1. Unsur Bahasa; yakni:
a. Bentuk Kata (sharf);
b. Struktur Kalimat (nahw);
c. Mufradat; dan
d. Konteks kebahasaan.
2. Kegiatan berbahasa, yakni:
a. Membaca (qira’ah); yang mengajarkan keterampilan berbahasa untuk mengembangkan kemampuan memahami makna bahan bacaan berdasarkan konteks kebahasaan tertentu;
b. Berbicara; melalui kegiata tanya jawab tentang bahan bacaan, untuk mendukung pemantapan keterampilan membaca; dan
c. Menulis; melalui kegiatan insya’ muwajjah, yang mengajarkan kemampuan menyusun kalimat untuk mendukung pemantapan keterampilan membaca.[14]
Secara umum proses pembelajaran bahasa Arab dengan pendekatan kognitif – sebagaimana yang bisa disimpulkan dari aspek-aspek pembelajaran bahasa yang sesuai dengan prinsip pendekatan kognitif - dari tahap pemberian stimulus, spesifikasi pada arpek kebahasaan, menghubungankan materi dengan bahasa ibu (LAD).[15]
f. Kekuatan dan Kelemahan Pendekatan Kognitif
Diantara bentuk kekuatan pendekatan kognitif adalah:
1. Dengan prinsip (Language Acquisition Device), kepercayaan diri siswa dalam mempelajari bahasa Arab akan terbangun dan terkesan mudah, dan ini dapat menjadi motivasi bagi siswa dalam pembelajaran. Karena guru dalam teknik pembelajarannya berpijak pada asumsi bahwa setiap siswa memiliki alat penerimaan bahasa dan kesemestaan bahasa, yang memudahkannya untuk mempelajari bahasa Asing (Arab).
2. Bagi umat muslim – seperti siswa Madrasah Aliyah di Indonesia – pembelajaran bahasa Arab dengan pendekatan ini akan lebih membantu untuk sampai pada tujuan pembelajaran; yakni memahami leteratur wawasan keilmuan dan sosial keagamaan yang berbahasa Arab;
3. Pembelajaran bahasa Arab dapat dilakukan oleh guru yang kemampuannya konteks komunikatif dan budaya Arab minimal. Dibandingkan dengan guru yang mengajar dengan menggunakan pendekatan komunikatif. Disamping itu beban penciptaan bi’ah lugawiyah juga tidak menjadi keharusan, mengingat kemampuan berbicara siswa hanya ditekankan untuk mendukung kemampuan mereka dalam memahami makna teks bacaan dan hubungan dengan konteks kebahasaannya.[16]
Adapun bentuk kelemahan pendekatan kognitif adalah sebagaimana yang disebutkan oleh para pencetus pendekatan komunikatif seperti Dell Hymes dan lain-lain, diantaranya:
1. Keterampilan berbahasa akan dikuasi dengan tidak seimbang, karena asumsi bahwa menyimak, berbicara dan menulis adalah keterampilan pendukung untuk membaca/memahami teks bacaan.
2. Nilai pragmatis sebuah bahasa Arab akan terhenti pada pemahaman teks tertulis. Dalam hal ini terjadi dekatomi fungsi dasar bahasa, karena pengajaran bahasa tidak diorientasikan pada pencapaian kemampuan komunikatif, yang dapat difungsikan dalam hubungan politik, perdagangan dan lain sebagainya.[17]
2. Pendekatan Komunikatif
a. Latar Belakang
Banyaknya persoalan pembelajaran bahasa di Inggris, melatar belakangi para pemerhati pendidikan dan ahli bahasa pada awal tahun 60-an untuk mencari solusi terbaik, bagaimana cara mengajarkan bahasa sehinga lebih efektif dan efesien. Sementara pada saat itu, pendekatan situasional dipandang alternatif terbaik dibanding yang lain untuk dikembangkan, sedangkan para praktisi pemerintahan mamberikan arahan bagaimana pembelajaran bahasa dapat lebih pragmatis.[18]
Oleh karena itu, para ahli pembelajaran mengkritik pendekatan yang dicetuskan Chomsky dan mencari sisi pandang baru pengajaran bahasa. Solusi yang diangankan ini, juga senada dengan pandangan para filosof bahasa (seperti Austin dan Searle), Sehingga kemudian diperoleh kesepakatan ahli pembelajaran bahasa di Inggris, bahwa arah yang ditempuh adalah menanamkan kemapuan komunikasi.[19] Oleh karena itu, yang menjadi dasar pandang metode ini adalah sosiolinguistik, bukan psikolinguistik.
Kemampuan komunikasi ini dipandang penting, karena pada saat itu dirasakan makin besarnya saling ketergantungan negara-negara Erofa secara ekonomis, ini mengakibatkan EEC (Eurofean Economic Communicaty) menekankan pentingnya penguasaan bahasa komunikasi. Pada gilirannya, badan inilah yang mensponsori rapat-rapat/seminar-seminar internasional pengajaran bahasa, menerbitkan tulisan-tulisan (buku, monograf dan artikel) mengenai pengajaran bahasa (komunikatif), dan mendorong aktif pembentukan International Assocition of Applied Linguistics (Himpunan Internasional Linguistik Terapan), sehingga pendekatan komunikatif ini mendapat perhatian sangat serius dari kalangan lembaga-lembaga pendidikan dan bahasa di Inggris, negara-negara Erofa lain dan Amerika. Terutama seteleh dilaksanakan seminar Council of Europe di Swiss (1971), dan konsepnya menjadi lebih jelas, setelah ditulisnya artikel tentang ’kemampuan komunikatif’ oleh Dell Hymes (1972).[20] Pada perkembangannya pendekatan dan metode ini diaplikasikan dalam pembelajaran bahasa sampai sekarang dibanyak negara termasuk Indonesia.
b. Asumsi Pembelajaran Bahasa
Dalam hal ini, metode komunikatif didasarkan atas asumsi bahwa setiap manusia memiliki kemampuan bawaan yang disebut dengan alat pemerolehan bahasa (Language Acquisition Device), artinya bahasa dipengaruhi oleh kemampuan internal anak. penedekatan komunikatif juga memandang hakikat bahasa dilihat dari segi fungsinya sebagai alat komunikasi dan bukan bentuknya. Dengan perkataan lain, bahasa dipelajari dan digunakan untuk meminta maaf, menyapa, membujuk, menasehati, memuji, atau untuk mengungkapkan makna tertentu, tetapi tidak untuk membeberkan kategori-kategori gramatikal yang ditemukan oleh para ahli bahasa. Bahasa juga dianggap sebagai salah satu fenomena dalam bangunan sosial oleh karena itu harus dapat menjalankan fungsi-fungsi sosial.[21]
Asumsi yang lain lain ialah bahwa belajarar bahasa kedua dan bahasa asing sama seperti belajar bahasa pertama, yaitu berangkat dari kebutuhan dan minat pelajar. Oleh karena analisis kebutuhan dan minat belajar merupakan landasan dalam pengembangan materi belajar.[22]
c. Tujuan Pembelajaran
Tujuan yang dicanangkan dalam pendekatan komunikatif adalah ’tercapainya kemampuan komunikatif berbahasa’, yakni penguasaan secara naluri yang dipunyai seorang penutur asli atau bagaikan penutur asli, untuk menggunakan dan memahami bahasa secara wajar (appropriately), alami dan sesuai dengan esensinya (sebagai alat komunikasi).
Dari tujuan umum tersebut, dapat dijabarkan pada pencapaian kompetensi berbahasa sebagai berikut:
1. Kompetensi gramatikal dan unsur-unsur kalimat lain;
2. Kompetensi sosiolinguistik; agar individu dapat memahami konteks dalam berkomunikasi dan berhubungan dengan sesama,
3. kompetensi menganalisis teks dan konteks dan mengetahui hubungan unsur-unsur di dalam (teks dan konteks) secara komprehensif,
4. Kompetensi strategi; agar individu mampu menentukan metode, teknik dan strategi yang cocok untuk memulai komunikasi dan kapan mengakhirinya, mampu menarik perhatian orang lain dan hal-hal lain yang menyempurnakan arus komunikasi dan maksimalnya pencapai tujuan.[23]
d. Langkah-Langkah Pembelajaran
Tidak ada metode khusus yang ditunjuk para peletak pendekatan ini dalam buku-buku mereka. Namun, di akhir pembicaraan tentang sub-bahasan ini Nayif Kharma mengatakan, bahwa teknik yang mungkin dilakukan adalah dengan cara membentuk بيئة لغوية yang sempurna (persis seperti kondisi yang ada pada pemilik bahasa asli), namun inipun menurutnya sangat sukar dilakukan, kecuali berada pada lingkungan yang memiliki budaya sama pula.
Adapun teknik pembelajaran pendekatan ini, menurut Thu’aimah adalah sebagai berikut:
1. Guru memberikan materi الحوار berdasarkan konteks/peristiwa tertentu;
2. Guru memberikan contoh pengucapan metode الحوار kemudian diikuti siswa; dengan cara bersama-sama, berkelompok, sendiri-sendiri;
3. Melontarkan pertanyaan tentang materi الحوار yang telah dipelajari;
4. Guru menyimpulkan esensi yang telah dipelajari, menjelaskan konteks yang tempat untuk materi itu, fungsi komunikatif apa yang akan dicapai dengan materi itu dan bagaimana menyampaikannya secara efektif;
5. Siswa ditugaskan untuk mempraktekkan الحوار dalam berbagai kesempatan dan fungsi konteksnya;
6. Siswa mereproduksi الحوار yang telah dipelajari dalam ungkapan mereka sendiri;
7. Siswa melaksanakan dialog sesama mereka secara bebas-tertarah, dan atau bebas;
8. Guru memberikan evaluasi dalam bentuk PR tertulis;
9. Terakhir guru melaksanakan evaluasi secara lisan dan evaluasi dilakukan dengan ungkapan bebas dari siswa berdasarkan konteks tertentu yang diarahkan oleh guru.[24]
e. Silabus Pembelajaran Bahasa
Secara gelobal Thu’aimah menyebutkan muatan-muatan pokok fungsi bahasa yang harus ada pada karangka silabus komunikatif sebagai berikut:
1. الوظيفة النفعيةinstrumental function ؛ويقصد بها استخدام اللغة للحصول على الأشياء المادية، مثل الطعام والشراب.
2. الوظيفة التنظيمية reguiatory function؛ويقصد بها استخدام اللغة من أجل اصدار أوامر للآخرين وتوحيد سلوكهم.
3. الوظيفة التفاعليةintreractional function ؛ويقصد بها استخدام اللغة من أجل تبادل المشاعر والأفكار بين الفــرد والآخرين.
4. الوظيفة الشخصية personal function؛ويقصد بها استخدام اللغة من أجل أن يعبر الفرد عن مشاعره وأفكاره.
5. الوظيفة الاستكشافية heuristic function؛ويقصد بها استخدام اللغة من أجل الاستفسار عن أسباب الظواهر والرغبة في التعلم منها.
6. الوظيفة التخيلية imaginative function؛ويقصد بها استخدام اللغة من أجل التعبير عن تخيلات وتصورات من إبداع الفرد وإن لم تتــطابق مع الواقع.
7. الوظيفة اليانية representational function؛ويقصد بها استخدام اللغة من أجل تمثل الأفكار والمعلومات و توصيلها للآخرين.[25]
Adapun asas gradasi yang dipegang adalah tahapan prioritas fungsi bahasa. Dengan demikian fungsi komunikatif apa yang harus dijalankan bahasa untuk pertama kali, itulah yang dipenuhi materi.[26]
Pola silabus pembelajaran bahasa kedua dan asing di Indonesia untuk tingkat SMU-1994/MA-1996 menggunakan pendekatan Komunikatif dengan ’model ragam fleksibel’; yakni:
1. Silabus (GBPP) memuat komponen tujuan, tema dan sub tema, keterampilan fungsional dan contoh ungkapan komunikasi (الحوار),
2. tujuan dirumuskan komunikasi dirumuskan, dengan bertumpu pada keterampilan berbahasa,
3. tema dijadikan dasar pengembangan bahan proses belajar,
4. Fleksibalitas model silabus ini terletak pada klewesan urutan tema, keterampilan fungsional dan contoh ungkapan komunikatifnya, dan bahwa urutan ketiganya tidak harus paralel,
5. Struktur tidak dicantumkan secara tersurat agar tidak dijadikan fokus dalam proses belajar mengajar.[27]
Adapun al-’Araby menekankan penggunaan teknik yang bersifat menari dengan dukung oleh media pembelajaran yang modern; diantara teknik yang dia tawarkan adalah:
1. Pembentukan bi’ah lughawiyah yang serupa dengan lingkungan asli,
2. Pemberian pengalaman lapangan dan budaya asli
3. Dialog dan debat,
4. Dramatisasi,
5. Pembentukan kelompok belajar (terdiri dari beberapa orang) untuk drill materi takallum yang telah ditentukan topik dan kontek sosialnya.
6. Pembentukan pasangan berbicara (masing-masing terdiri dari dua siswa) untuk drill materi takallum yang telah juga ditentukan topik dan kontek sosialnya [28].
Walaupun demikian disadari bahwa kurikulum pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, bahkan sampai pada kurikulum 2006 untuk tingkat Madrasah Aliyah, walaupun disebutkan dalam dalam salah satu rambu-rambu pembelajaran (poin d); bahwa ’belajar balajar bahasa asing adalah belajar bekomunikasi melalaui bahasa tersebut’.[29] Namun belum mencanangkan keterampilan komunikasi ujaran secara luas, bahkan hanya menekankan pada kemampuan membaca dan memahami teks sosial budaya agama. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Prof. Dr. HD. Hidayat, MA pada perkuliahan Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab, tanggal 6 Juni 2007.
Mengenai bahan ajar dalam pendekatan/metode komunikatif dikelompokkan menjadi tiga; yakni 1) bahan ajar yang berdasarkan teks, 2) bahan ajar yang berdasarkan tugas, dan 3) bahan ajar yang berdasarkan otentik komunikasi.
6. Kekuatan dan Kelemahan Pendekatan Komunikatif
Ahmad Fuad Effendy menyebutkan kekuatan pendekatan komunikatif sebagai berikut:
1. Siswa termotifasi dalam belajar karena pada hari pertama pelajaran, langsung dapat berkomunikasi dengan bahasa Arab (dalam batas fungsi, nosi, kegiatan berbahasa dan keterampilan tertentu).
2. Siswa lancar berkomunikasi, dalam arti menguasai kompetensi gramatikal, sosiolinguistik, wacana dan strategis.
3. Suasana kelas hidup dengan aktivitas komunikasi antar pelajar dengan berbagai model interaksi dan tingkat kebebasan yang cukup tinggi, sehingga tidak membosankan.
Adapun kelemahan pendekatan ini adalah:
1. Memerlukan guru yang menguasai keterampilan komunikasi secara memadai dalam bahasa Arab, serta wawasan yang cukup tentang kebudayaan penutur asli bahasa Arab.
2. Kemampuan membaca dalam keterampilan tingkat ambang tidak mendapat perhatian yang cukup.
3. Loncatan langsung pada keterampilan komunikasi dapat menyulitkan siswa pada tingkat permulaan.

3. Perbandingan Pendekatan Kognitif dan Komunikatif
Terdapat beberapa persamaan mendasar antara kedua pendekatan ini diantara yang terpenting:
No
Bentuk Persamaan
1
Keduanya berada pada tataran pendekatan; walaupun kognitif dan komunikatif juga merupakan nama dari metode pada aplikasinya (menurut sebagian ahli pembelajaran bahasa)
2
Terbentuk dari kritik terhadap metode Audio Lingual
3
Berdasar pada teori linguistik transformasi – generatif
4
Masing-masing memiliki dasar teori pandang bahasa (namun sudut pandang berbeda)
5
Telah teruji dicoba dibeberapa negara dan bahasa
6
Direkomendasikan oleh pemerintah diaplikasikan di Indonesia
Sedangkan perbedaan mendasar antara kedua pendekatan ini diantaranya[30]:

No
Kognitif
Komunikatif
1
Dasar bangunannya LAD dalam psikolinguistik
Dasar bangunannya sosiolinguistik
2
Bahasa sebagai objek yang menjadi tujuan pembelajaran
Bahasa dipelajari sebagai alat yang berfungsi komunikasi
3
Kompetensi adalah memaha-mi makna dan unsur-unsur kalimat sesuai dengan suatu konteks bahasa (السياق اللغوي)
Kompetensi adalah kemampuan menggunakan bahasa sesuai konteks sosial (السياق الاجتماعي)
4
Tahapan berdasarkan tingkatan gramatikal
Tahapan berdasarkan konteks dan fungsi komunikasi
5
Memahami makna dalam kalimat diprioritaskan
Memahamkan maksud dalam komunikasi diprioritaskan
6
Kemampuan berbicara berada di akhir proses yang didapat karena banyak bergelut dengan bahasa
Kemampuan berbicara ditekankan sejak awal
7
Bahasa adalah hal yang tidak boleh dimulai dari sebuah kesalahan
Bahasa adaah alat yang dipunyai setiap orang setelah mencoba dan melalui kesalahan
8
Direkomendasikan diaplikasikan pada pembelajaran bahasa Arab
Direkomendasikan diaplikasikan pada pembelajaran bahasa Indonesia, Inggris dan bahasa asing lain

C. Penutup
Demikian pembahasan makalah yang sangat sederhana ini tentang Pendekatan Kognitif dan Pendekatan Komunikatif , yang disajikan secara singkat, padat, tepat, akurat, actual tajam dan terpercaya. Mudah-mudahan ada hikmah dan manfaat yang dapat diambil. Saran dan kritik yang membangun dari para pembaca sangat penulis harapkan guna perbaikan makalah ini selanjutnya



DAFTAR PUSTAKA
Ali Yunus, Fathi dan Muhammad Abdurrauf, al-Marji’ Fi Ta’lim al-Lughah al-’Arabiyah Li al-Ajanib, Maktabah Wahbiyah, Kairo, Cet. 1, 2003
Departemen Agama RI, Standar Isi Madrasah Aliyah, Direktorat Jendral Pendidikan Islam, Jakarta, 2006
Djajasudarma,T. Fatimah, Semantik 1: Pengantar Kearah Ilmu Makna, (Bandung: PT. ERESCO, Cet. I, 1993), hal. 1
Effendy, Ahmad Fuad, Metodelogi Pengajaran Bahasa Arab, Percetakan Misykat, Malang, Cet. 3, 2005
Kharma, Nayif, dan ‘Aliy Hajjaj, al-Lughat al-Ajnabiyah Ta’allumuha Wata’limuha, al-Majlis al-Wathani li al-Tsaqafah Wa al-Funun Wa al-Adab, Kuwait, 1988,
Majid, Shalah Abdul al-‘Arabiy, Ta’allum al-Lughat al-Hayyah Wa Ta’limuha: Baina al-Nazariyat Wa al-Tathbiq, Beirut: Maktabah Lubnan, Cet. 1, 1981
Nababan, Sri Utari Subyekto, Metodologi Pengejaran Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993, dalam Kapita Selekta Met. Pengajaran Bahasa Asing, dihimpun Prof. Dr. H. Aziz Fahrurrazi, M.Ag. dan Mukhshon Nawawi, A.Ag., UIN Syahid, 2006.
Parera, Jos Daneil, Linguistik Edukasional, Erlangga, Jakarta, 1987, dalam Kapita Selekta Met. Pengajaran Bahasa Asing, dihimpun Prof. Dr. H. Aziz Fahrurrazi, M.Ag. dan Mukhshon Nawawi, A.Ag., UIN Syahid, 2006.
Porwo, Bambang Kaswanti, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, Yogyakarta: Kanisius, 1990
Richards, Jack C, and Theodore S. Rodgers, Apprroaches and Methods in Language Theacing, Cambridge University, New York, 1992., dalam Kapita Selekta Met. Pengajaran Bahasa Asing, dihimpun Dr. H. Aziz Fahrurrazi, M.Ag. dan Mukhshon Nawawi, A.Ag., UIN Syahid, 2006.
Thu’aimah, Rusydi Ahmad, Ta’lim al-Arabiyah Lighairi al-Natiqin Biha, Mansyurat al-Munazzhamah al-Islamiyah Li al-Tarbiyah Wa al-’Ulum Wa al-Tsaqafah, Mesir, 1989








[1] Bambang Kaswanti Porwo mengatakan: ahli pengajaran bahasa seperti Roberts (1982), Finoccichiaro dan Brumfit (1983) dan Littlewood (1985) beranggapan gerakan ’baru’ ini lebih berurusan dengan penyusunan silabus dan bahan pengajaran daripada dengan metode pengajaran. Bambang Kaswanti Porwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hal. 50
[2] Departemen Agama RI, Standar Isi Madrasah Aliyah, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam, Jakarta, 2006), hal. 61 – 104.
[3] Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, Cet. 3, 2005), hal. 52 – 53.
[4] Rusydi Ahmad Thu’aimah, Ta’lim al-Arabiyah Lighairi al-Natiqin Biha, (Mesir: Mansyurat al-Munazzhamah al-Islamiyah Li al-Tarbiyah Wa al-’Ulum Wa al-Tsaqafah, 1989), hal. 140
[5] Rusydi Ahmad Thu’aimah, hal. 143
[6] T. Fatimah Djajasudarma, Semantik 1: Pengantar Kearah Ilmu Makna, (Bandung: PT. ERESCO, Cet. I, 1993), hal. 1
[7] Jack C Richards and Theodore S. Rodgers, Madzahib Wa Tharaiq Fi Ta’lim al-Lughat, terjemahan: Lembaga Penerjemah, judul asli: Apprroaches and Methods in Language Theacing, (Riyad: Dar ‘Alam al-Kutub, 1990), hal. 116.
[8] Departemen Agama RI, Standar Isi Madrasah Aliyah, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam, Jakarta, 2006), hal. 62
[9] Jack C Richards and Theodore S. Rodgers, (terjemahan), hal. 118
[10] Bambang Kaswanti Porwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hal. 50
[11] Shalah Abdul Majid al-‘Arabiy, Ta’allum al-Lughat al-Hayyah Wa Ta’limuha: Baina al-Nazariyat Wa al-Tathbiq, (Beirut: Maktabah Lubnan, Cet. 1, 1981), hal. 57 – 59
[12] Jos Daneil Parera, Linguistik Edukasional, (Jakarta: Erlangga, 1987), hal. 19
[13] Rusydi Ahmad Thu’aimah, hal. 139 - 144
[14] Departemen Agama RI, Standar Isi Madrasah Aliyah, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam, Jakarta, 2006), hal. 63
[15] Shalah Abdul Majid al-‘Arabiy, hal. 14
[16] Shalah Abdul Majid al-‘Arabiy, hal. 57 - 59
[17] Shalah Abdul Majid al-‘Arabiy, hal. 66
[18]Jack C Richards and Theodore S. Rodgers, Apprroaches and Methods in Language Theacing, (New York: Cambridge University, 1992), hal. 64.
[19] Sri Utari Subyekto Nababan, hal. 63
[20] Sri Utari Subyekto Nababan, hal. 63 – 64.
[21] Fathi Ali Yunus dan Muhammad Abdurrauf, hal. 123
[22] Ahmad Fuad Effendy, hal. 54 - 55
[23] Nayif Kharma dan ‘Aliy Hajjaj, hal 187 – 188
[24] Perlu ditekankan disini, bahwa sebenarnya para ahli pendidikan tidak menemukan bentuk evaluasi setandar untuk jenis pendekatan ini, mengingat selama pembelajaran siswa pada bi’ah yang kurang sempurna; yang menggambarkan budaya penutur bahasa secara tepat, oleh karena itu tidak penemukan pola baku atau terkesan dipaksakan. Rusydi Ahmad Thu’aimah, hal. 124 – 125
[25] Rusydi Ahmad Thu’aimah, hal. 120
[26]Nayif Kharma dan ‘Aliy Hajjaj, hal. 187 – 188
[27]Ahmad Fuad Effendy, hal. 64
[28] Shalah Abd al-Majid al-‘Araby, hal. 138 - 140
[29] Standar Isi Bahasa Arab Aliyah Departemen Agama RI, hal. 63 - 64
[30] Jack C Richards and Theodore S. Rodgers, hal. 130 – 132.